Wednesday, March 6, 2013

Universal Rules of Luck ♥


#FaktanyaAdalah Saya. Kamu. Kita semua punya keberuntungan. Belum merasa beruntung? Mungkin cara-cara di bawah ini bisa memperlancar aliran hoki kita. Coba deh!

  1. “Memang kalo rejeki datang, bentuknya beda-beda. Ada yang bentuknya uang, peluang, kemudahan, hadiah, apa aja deh.” - @St_Agustaf. Banyak ya? Hayo ditelaah, keberuntungan apa saja yang saat ini sudah kita miliki?
  2. Kenali diri sendiri. Cari tahu apa yang paling kita inginkan. Minimal itu akan bikin kita lebih fokus dalam prosesnya. Proses? Iya. Ora et labora. 
  3.  Kadang keberuntungan lebih dulu mampir ke kehidupan orang terdekat kita. Stay cool. Nanti juga tiba giliran kita. *duduk manis menunggu*
  4. Kalo giliran kita yang kebagian hoki, hak kita sepenuhnya mau berbagi dengan siapa. Nah! Biasanya orang yang kita bagi itu punya kriteria tertentu, bukan? Baik itu kedengarannya cliché banget, tapi benar. Jadi? Berbaik hatilah dengan semua orang, tulus.
  5. Be honest. Tepati janji kita untuk sharing dengan orang ‘pilihan’. #SepeleTapiPenting
  6. Setiap orang yang mampir di hidup kita pasti bawa ‘sesuatu’. Tugas kita selanjutnya adalah mencari tahu, sesuatu itu baik atau buruk. But most of all, ambil maknanya ya. #LessonLearned
  7. Begitu juga sebaliknya. Di tangan kita juga ada ‘titipan’ punya orang lain. Yuk kita sampaikan. ☺
  8. Jangan serakah. Alih-alih mendapatkan semuanya, kita nggak akan mendapatkan apapun.
  9. Keep humble and low profile. Tetap optimis kalo Semesta bakal memberikan yang terbaik untuk kita tepat pada waktunya.
  10.  Above all, be grateful. Kalo nggak, nanti keberuntungan kita ‘terbang’ karena gak dihargai. 

Sudah? Semoga setelah ini, kehidupan kita bisa membawa keberuntungan juga buat orang lain ya! May The Force Be With Us! *Star Wars Mode*

Thursday, February 21, 2013

Move On : Be Honest to Yourself First


Nggak terasa sudah seminggu lewat Hari Valentine tahun Ular Air,
Malam Valentine gue lalui di Plaza Senayan XXI untuk nonton film Rectoverso bareng seorang teman. Teman sesama moviegoer. Mengemban tugas live report dan nulis review.

Tanpa sepengetahuan orang-orang yang selama ini dikenal sebagai sahabat.

Mereka jadi bagian dari hidup gue sejak awal kuliah. Empat tahun. Kita nggak selalu bersama-sama. Beberapa pilihan dan desakan kerap menjadi pemisah. Namun toh ujungnya kita tetap lulus dan wisuda bareng.

Sesuai rencana, malam itu, mereka akan mengadakan farewell untuk kawan paling bungsu sebelum dia berangkat ke Cina hari Minggu ini. Farewell? Oke. Dinner, dilanjutkan nongkrong di coffee shop.

Tidak ada undangan terbuka dari mereka yang sampai ke gue. Hanya saja, seorang sahabat sempat mengajak ikut serta. Bayar masing-masing. Keuangan gue lagi di ambang sekarat. #iniserius #jujur

Keputusan final. Gue nggak ikut.

Kemudian, datanglah undangan nonton bareng film itu via WhatsApp. #ahsudahlah

***

Keesokan paginya, gue berpikir, “Kalo mereka memang sahabat gue, kenapa gue bisa semalas ini sih, cuma buat ketemuan? Padahal kapan lagi gue bisa meluk si bungsu?”

Refleksi sekian menit itu membimbing gue ke titik dari pertanyaan tersebut.

Kita. Gue. Mereka. Berbeda.

Apa yang penting menurut gue, nggak begitu penting bagi mereka.
Berlaku juga sebaliknya.

Menilik sebentar ke masa kuliah, waktu gue tersita untuk organisasi dan networking.

#IMO Apapun yang gue makan, berapa budget gue buat shopping, itu rahasia dompet dan panca indera gue. Kadang kamera dan Twitter pun sering gue suruh buat kepo. #ngaku #jujur

Sementara,

#BahagiaItuSesederhana Mendengarkan teman berbagi impiannya ke gue. Mau jadi entrepreneur atau CEO, jalan-jalan keliling dunia, ikutan reality show, melanjutkan kuliah, sampai berkolaborasi bikin suatu karya. Apapun!

Satu hal yang penting dan sering jadi topik pembicaraan antar mereka, yaitu keluarga.
…
Gue adalah anak tunggal yang dibesarkan oleh single parent mother. Hubungan keluarga gue … ya begitulah. Banyak hal yang telah terjadi di masa lalu dan gue nggak kuasa buat memperbaikinya. Keadaan kini terlampau canggung. Lucunya, gue merasa nyaman dalam kondisi seperti ini.

Ketidaknyamanan gue muncul saat mereka mulai memamerkan foto keponakan imut-imut lucu lalu bercerita tentang oom super humoris dan tante ini-itu. Sesuatu yang belum bisa gue miliki sampai saat ini. Bukan karena kesalahan gue. Bukan salah siapa-siapa juga.

Gue enggan menimpakan semuanya kepada Semesta. Serius. Takut kena bala. Dikiranya gue nggak bisa bersyukur. 

***

Gue sudah terbiasa untuk menikmati kesendirian. Tapi gue sebisa mungkin menghindari kesepian, yang sering muncul saat gue bersama mereka. Aneh? Banget!

Rasanya kurang lebih seperti luka yang sudah sembuh, digelitikin sama temen pake bulu kemoceng. Gatal, tapi nggak boleh digaruk. Kecuali kalo mau luka itu menimbulkan bekas yang susah hilang.

Got it?

***

Konon, orang sombong adalah orang yang jarang mau diajak nongkrong bareng. Tanpa tahu apa penyebabnya, gue membangun 'benteng' di hadapan mereka. Salah? Bukankah setiap orang akan menjauh dari hal yang membuatnya terasa asing?

Saat itu, gue sendiri pun belum tahu dimana letak persoalannya. Gue terlalu sibuk bersembunyi di balik alasan yang gue karang sendiri. Mau tahu alasan paling ampuh? Libatkan Nyokap. #iniserius

Sekarang?

Gue nggak pernah merasa selega ini. 

***

Move on.

Bagi gue, itu adalah sebuah tekad. Tekad untuk memaafkan dan memahami pembelajaran yang terselip. Tentunya setelah fase jujur sama diri sendiri.

Bukankah kita selalu menghendaki keterbukaan dan kejujuran dalam setiap hubungan?

Lalu, mengapa tidak diterapkan dahulu pada diri sendiri?

#Katanya “Find the love you seek, by first finding the love within yourself.”

Gue setuju. Kalian bagaimana?

#Katanya @andri_cung “In life, we never lose friends. We only learn who our true ones are.”

NAH! So? Thanks for being my friends!


XOXO,
Novena Adelweis Gisela

Saturday, December 10, 2011

Revolusi (oleh) Facebook

Kita semua mengetahui kelebihan Facebook sebagai situs social media yang interaktif, virtual, bisa menyampaikan informasi dengan cepat, dengan biaya yang murah. Namun, dibalik fungsinya sebagai media pertemanan, ternyata Facebook bisa dirancang untuk menggerakan suatu bangsa untuk menjadi lebih kritis terhadap sistem pemerintahan mereka yang dianggap merugikan rakyat  dan melakukan suatu revolusi melawan Husni Mubarak. 

Salah satu dosen pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, yakni Ibu Riris Loisa, tertarik untuk melakukan riset terkait dengan revolusi Mesir yang terjadi pada awal tahun 2011 lalu. Riset ini dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan dasar-dasar semiotika dan analisis wacana.

Jika membaca majalah pada akhir tahun, pasti suka menemukan segmen khusus yang membahas peristiwa penting di tahun itu. Nah! Revolusi Mesir, yang akrab disebut dengan 'Revolusi Facebook' pasti termasuk didalamnya. 




Kejadian ini bermula saat seorang aktivis Facebook berusia 29 tahun bernama Khaled Said ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Kemungkinan besar dia ditangkap oleh aparat dan disiksa sebelum dibunuh. 

Seorang Marketing Manager Google asal Mesir bernama Wheil Ghonim yang tinggal di Uni Emirates Arab, membuat suatu gerakan di Facebook yang didukung oleh rakyat Mesir bernama 'We Are All Khaled Said'. Khaled Said didaulat sebagai icon perubahan. 




Penunjukan icon dan pemanfaatan momentum dimaksudkan untuk membentuk kesadaran kritis  mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan. Terbentuklah sebuah identitas yang powerful setelah mereka menetapkan Husni Mubarak sebagai common enemy karena pemerintahannya yang diktator. 

Hal ini sekaligus membuktikan teori Manuelle Castell yang mengatakan bahwa 'Orang dengan kepentingan yang sama akan berkumpul di media sosial, menyadari identitas mereka yang powerless, kemudian mengubahnya menjadi powerful. 

Diperlihatkannya foto kondisi penindasan dengan gambaran yang diinginkan dalam Facebook merupakan projected identity. Before and after yang mempersatukan keinginan untuk merdeka dari tekanan pemerintahan. 

Relevankah teori ini dipakai dalam konteks lainnya? Tentu saja relevan, apalagi jika menyangkut kepentingan krusial orang banyak. Diperlukan seorang icon atau sebuah momentum untuk menyentil masyarakat, "Hei. Kita perlu berubah, dan menjadi bagian dari perubahan ini."

Antara Public Relations, Jurnalistik, dan Periklanan

Sebenarnya, ada begitu banyak yang bisa dipelajari dari ilmu komunikasi. Marketing Communications, Public Speaking, Mass Communications, dan lain-lain. Namun, hanya ada 3 jurusan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Public Relations, Jurnalistik, dan Advertising. 

Menurut salah satu majalah wanita yang pernah saya baca, ketiga profesi ini merupakan salah satu dari profesi paling rentan stress. Waduh! Eh, nanti dulu. Mari kita bahas satu per satu, berdasarkan sisi akademis dan profesinya. Yuk!





PUBLIC RELATIONS
  • Profesi ini sering diidentikkan dengan wanita cantik, seksi, berpakaian serba mini, dunia entertainment, networking event, dan lain-lain. Benarkah? Seorang PR memang diwajibkan untuk berpenampilan menarik, namun tak harus glamour koq. Seperti kata pepatah lama nan manjur, kesan pertama itu segalanya. 
  • PR is about managing issues. Saat perusahaan didera isu tidak menyenangkan tentang kegagalan produk dan pelayanan jasa yang kurang sesuai, korupsi, konflik dengan masyarakat sekitar, dan lain-lain, PR seolah menjadi bumper bagi perusahaan. 




JURNALISTIK 
  • Idealnya, profesi ini akan bekerja di media. Ya media cetak, elektronik, dan internet. Bagi orang yang mobile, ini mengasyikan. Bagaimana tidak? Bertemu dengan banyak public figure, jadi orang pertama yang mengetahui update terbaru dari sebuah berita. 
  • Tapiiiiiii, siap-siap berurusan dengan deadline jika tidak pintar mengatur waktu. 
  • Profesi ini seringkali dianggap musuh PR. PR bertugas sebagai 'pelindung' image perusahaan, sementara reporter harus mencari berita untuk dimuat di media massa. 




ADVERTISING
  • Profesi ini dinilai paling banyak menghasilkan uang. Secara iklan itu ada dimana-mana, seiring dengan bertumbuhnya media. 
  • Kreativitas itu wajib bagi orang di bidang ini. Selalu dituntut untuk menghasilkan iklan kreatif yang diharapkan dapat mendongkrak penjualan produk secara langsung. 

Nah. Sekian dari saya. Jika ingin tahu lebih mendetail, silakan googling sendiri atau baca buku, karena buku adalah jendela dunia. Terima kasih.  

Iklan di Era New Media

Era new media ditandai oleh konvergensi media. Informasi dapat diakses dari 3 layar : TV, laptop atau tablet sebagai penunjang kerja, dan handheld macam Blackberry dan HP Android. Perubahan ini tentu saja berdampak pada pola perilaku. Masyarakat lebih menikmati menonton TV ketimbang membaca koran. Kini di Indonesia, ada 11 stasiun TV nasional. 

Selain itu, Indonesia memiliki 34 juta pengguna internet. Tercatat sebagai ke-5 terbesar di Asia. Mengapa demikian?
  • Tarif semakin murah. Banyak provider internet berlomba menawarkan tarif termurah, tergantung pada fitur dan bandwidth yang dibutuhkan.  
  • Jaringan mengglobal. Perusahaan memiliki media internal berupa newsletter, website, dan menggunakan Google dalam proses recruitment karyawannya.
  • Tak terbatasnya informasi yang tersedia
  • Bisa digunakan sebagai bisnis media online. Membeli sesuatu bisa dilakukan hanya dengan mengakses internet.

Untuk bisa memanfaatkan penggunaan teknologi internet dengan maksimal, kita harus mengetahui teknisnya media online, antara lain :
  • Content / platform is the king.
  • User behavior, online maupun offline.
  • Statistic, seperti tingkat traffic dan iklan.
  • Marketing.
  • Technology.
  • Make money. Industri kreatif membutuhkan internet sebagai media pemasarannya.
  • Culture. Menyesuaikan diri dengan perubahan. 

Bangsa yang maju ditentukan oleh seberapa sanggup mereka menguasai teknologi internet. Apakah Indonesia bisa?

Monday, December 5, 2011

Tantangan dan Perubahan dalam Media Komunikasi

Perubahan dalam setiap era kehidupan terjadi karena berkembangnya teknologi yang semakin memudahkan manusia untuk mengerjakan segala sesuatunya, termasuk di dalamnya memperoleh, membuat, dan menyebarkan informasi.

Kondisi seperti ini amatlah menarik jika ditilik dari sisi 'sebelum dan sesudah':
Sebelumnya, pesan dibuat oleh dan untuk audiens yang 'seragam'. Kini, audiens yang mulai bisa memilih pesannya disajikan sebuah pesan yang dipahami oleh segala kalangan.
Dulu, pesan terbagi untuk publik internal dan eksternal. Sekarang, semua pesan tersaji untuk setiap orang.
Masih ingatkah Anda, betapa sederhananya penerima pesan sebelum era New Age? Pesan hanya ditujukan untuk pelanggan, karyawan, pemegang saham, dan publik general. Sekarang, publik terbagi menjadi anak muda, karyawan kelas menengah, senior executives, dan lain-lain.

Lalu, apakah konten informasinya juga berubah sesuai selera masyarakat? Survei Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) membuktikan bahwa berita kriminal, olahraga, dan bencana masih tetap menjual; sementara berita mengenai kesehatan, gaya hidup, dan pendidikan mulai menjadi favorit; serta berita bisnis dan politik yang memiliki sedikit peminat. Selain itu, media sudah mulai mendengarkan saran dari audiensnya. 

Tak hanya perubahan dari segi audiens dan konten, media pun sekarang berganyung kepada social media yang bersifat personalized account. Namun, peran media massa tetap diperlukan sebagai pengklarifikasi dari informasi yang diragukan kebenarannya jika disampaikan melalui twitter (misalnya).  
  

Tuesday, November 22, 2011

Profesi Komunikasi dan Fotografi Digital

Perlukah mahasiswa fakultas ilmu komunikasi menguasai fotografi?

Rasanya perlu. Mengingat fotografi dengan kamera DSLR menjadi hobi dadakan anak muda. Harga kamera DSLR serta perangkatnya pun semakin terjangkau. Tak lagi semahal dulu dengan berbagai pilihan merek dan range harga. Berbagai software pelengkapnya tersedia dimana-mana dan mudah digunakan, seperti Adobe Photoshop.

Apapun profesi komunikasi yang dijalani, minimal harus menguasai teknik fotografi. Mulai dari pengambilan gambar melalui angle yang tepat, menangkap sebuah momen, mengedit hasilnya sampai sesuai yang dibutuhkan, sampai menyimpannya dengan format yang benar agak tidak mengurangi kualitas foto.

Dalam dunia jurnalistik, proses tercetaknya sebuah foto di media massa dimulai dari reporter yang bertugas untuk menulis berita, sementara fotografer melampirkan hasil jepretannya untuk dilayout oleh desainer grafis. 

Mahasiswa yang mengambil jurusan periklanan pasti familiar dengan pemotretan produk untuk print advertisement. Begitu juga dengan mahasiswa jurusan public relations, ada kalanya sebuah press release harus dilengkapi dengan foto. 

Untuk kualitas gambar yang baik, disarankan menggunakan format RAW tanpa penurunan mutu. Jika dikonversi dalam format JPEG, beratnya kurang lebih 1 sampai 2 MB dengan 24 bit colours kurang lebih 16 juta warna.




Monday, November 14, 2011

Analisis Isi Tayangan 'Jakarta Lawyers Club'

Karni Ilyas selaku Pemimpin Redaksi tvOne memiliki program tersendiri yang menyatukan beberapa pengacara dalam suatu forum diskusi untuk membahas topik-topik yang berhubungan dengan pemerintahan Indonesia. 

Jakarta Lawyers Club yang kini berganti menjadi Indonesia Lawyers Club ditayangkan setiap hari Selasa, jam 19.30 WIB dan rerun hari Minggu, jam 20.00. 

Tak hanya pengacara yang turut meramaikan program ini, tapi juga budayawan yang kita kenal karena kekritisan mereka dalam memonitor politik, seperti Sudjiwo Tedjo dan Arswendo Atmowiloto yang menambah seru forum karena pendapat mereka yang nyeleneh namun menohok. 

Dalam menganalisis konten sebuah program TV, hal-hal dibawah ini wajib menjadi acuan :
  1. Topik
  2. Narasumber
  3. Audiens
  4. Moderator
  5. Sponsor
  6. Jenis Acara
  7. Setting (waktu, peralatan, tempat)
  8. Nilai Berita
Sebaiknya analisis isi dilakukan secara berkala minimal 6 (enam) bulan sekali. 

Sebagai salah satu tayangan yang letak keseruannya terletak pada perdebatan antara pihak pro dan kontra dengan pemerintahan. Banyak hal yang harus diperhatikan dalam proses syutingnya. Salah satu berita yang saya baca adalah kekecewaan seorang penonton karena audiens yang terdiri dari kaum intelektual tertangkap kamera sedang menertawakan ibu-ibu ndeso yang sedang diwawancara via telewicara terkait kasus joki narapidana di suatu Rutan di wilayah Bojonegoro.

Cerita lain lagi berasal dari pengacara Nazaruddin, OC Kaligis dan Gayus Lumbuun yang nyari terlibat baku hantam saat saling sindir berlanjut ke acara 'Kabar Indonesia Pagi' terkait kasus kewenangan KPK dan Bibit - Chandra. 


Yang membuat saya bingung adalah, apakah insiden yang melibatkan narasumber acara tersebut berdampak terhadap rating Indonesia Lawyers Club?

Bukankah seharusnya mereka berperilaku lebih sopan dan berwibawa saat tampil untuk disaksikan masyarakat di seluruh Indonesia? Bukankah berbeda pendapat itu wajar? Mengapa harus sampai baku hantam? 

Jika insiden serupa terus berlanjut, bukankah mungkin citra pengacara di negara ini malah menjadi buruk? Bukannya menyelesaikan masalah dengan mencari solusi, malah saling adu mulut berkepanjangan.


Wednesday, November 2, 2011

Komunikasi dalam Organisasi Kemanusiaan Skala Internasional

- Angelina Jolie di Afghanistan dalam misi UNHCR, 2011-


Salah satu alasan mengapa saya mengagumi sosok beberapa selebriti adalah keterlibatan mereka dalam aksi sosial. Mereka menggunakan popularitas, waktu, dan sebagian dari penghasilan mereka untuk berbagi kepada sesamanya. Beberapa mendirikan  organisasi sendiri, beberapa memilih untuk menyumbangkan uang mereka untuk dikelola oleh organisasi yang dianggap memiliki kredibilitas, sementara ada pula yang menyempatkan dirinya untuk terjun langsung ke lapangan. Contohnya adalah Angelina Jolie yang terpilih menjadi UNHCR Goodwill Ambassador.

Sebagai seorang ambassador, Angelina Jolie berkesempatan untuk mengunjungi daerah konflik dan berbagi semangat dengan pengungsi yang menjadi awareness dari UNHCR.

UNCHR merupakan singkatan dari United Nations High Commissioner for Refugees, didirikan pada tanggal 14 Desember 1950 untuk menggantikan IRO sebagai lembaga pendamping pengungsi di negara ketiga yang terlibat perang. 

Bekerja di organisasi kemanusiaan skala internasional sangatlah menantang, apalagi di UNCHR yang   'dekat' dengan pemberitaan di media massa mengenai perang di negara lain. Terkadang kenyataan di lapangan bisa berbeda atau sama dengan apa yang diberitakan. 

Jikalau fungsi seorang ambassador dalam endorsement produk adalah membuat citra positif sekaligus menjadi bintang iklan, serta menyebarkan kampanye (seperti 'It's In Me' dari Aqua), maka fungsi ambassador dalam organisasi skala nasional - internasional adalah mengkomunikasikan visi, misi, dan tujuan melalui kegiatan real kepada publik, sehingga publik mengetahui eksistensi mereka dan diharapkan dapat mengubah perilaku ke arah yang lebih positif.  

Menggunakan selebriti sebagai endorser atau ambassador masih menjadi salah satu cara efektif untuk memperkenalkan suatu nilai yang dianut kepada masyarakat. Keberadaan artis sekaliber Angelina Jolie membuka mata kita terhadap permasalahan pengungsi yang kerap terabaikan akibat konflik di negara mereka. Indonesia sendiri memiliki pengungsi yang terlantar akibat penanganan bencana alam yang terlambat. Bagaimana Indonesia bisa mengadaptasi gaya komunikasi organisasi tersebut agar penyelesaian masalah pengungsi bisa berjalan dengan lebih efektif? Tentunya bukan dengan membuat album keempat, bukan? :P

Sunday, October 9, 2011

Anatomi Media Penyiaran

Sebuah lembaga yang baik memerlukan struktur yang jelas agar dapat memberikan hasil yang maksimal. Entah itu lembaga non profit, terlebih perusahaan penyiaran. Maksimal dalam artian bisa menjadi penyalur informasi bagi masyarakat dan memberikan laba .

Biar bagaimanapun juga, sebuah media membutuhkan modal untuk dapat menjalankan aktivitasnya. Mayoritas modal akan didapat dari iklan dan pemegang saham. Hal tersebut menjadi sebuah polemik tersendiri. Akankah media masih dapat memberitakan informasi secara berimbang tanpa kepentingan sang pemilik? Mungkinkah orang-orang yang berada di media tersebut masih dapat bersikap idealis?

Sebagai mahasiswa komunikasi yang diwajibkan untuk melek informasi, kita tentu sudah mengetahui perihal perang media yang terjadi antara Metro TV dan TV One. Kedua stasiun televisi yang dimiliki oleh politikus dan pengusaha ternama di Indonesia, memiliki kepentingan politik. Dan itulah yang akhirnya membuat berita yang disampaikan condong ke pihak tertentu. 

Memojokkan dengan menonjolkan pemberitaan lawan, mendukung dengan membanggakan prestasi diri.

Mengapa bisa terjadi hal demikian ?

Puncak dari sebuah anatomi media penyiaran adalah lembaga, disusul oleh badan usaha, dan kepemilikan.Tak heran apabila siapa yang memiliki akan berpengaruh terhadap isi berita. Modal yang disokong oleh ketiga komponen diatas akan menentukan kecanggihan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan gambar dan suara yang jernih.

Bukankah kita kerap menentukan apa yang akan kita nikmati berdasarkan konten?

Konten akan membuat pengiklan memilih untuk memasang iklan di acara televisi dan jam tertentu. Acara dan iklan yang akan disiarkan harus jelas dulu target market dan penontonnya agar lebih terarah.

Seperti internet memiliki firewall, begitulah fungsi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka berfungsi sebagai regulator dengan membuat regulasi untuk siaran media.

Seperti kata Wimar Witoelar dalam bukunya "Still More About Nothing", gigi tidak usah dicabut karena saling menopang satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan anatomi media penyiaran. Semuanya harus bekerjasama untuk menghasilkan acara yang fun namun tetap edukatif.

Sunday, October 2, 2011

Pop Culture? Blame It On The Media!

http://tv.mtvema.com/ - Vote - Best Pop - Justin Bieber. 

Setelahnya, saya berpindah ke kategori lain. Best Male. Eh, ada Justin Bieber lagi. Tapi, saya memilih David Guetta.

Kategori 'Biggest Fans' pun juga sama. Ada Justin Bieber dengan Beliebers yang jealous ketika idolanya ini berpacaran dengan Selena Gomez.

Kehebohan seorang Justin Bieber juga pernah melanda Indonesia saat konsernya yang banyak mengundang penipuan tiket dan segerombolan ABG yang bela-belain nunggu bocah pirang ini bandara Soekarno-Hatta. Lucunya, kamera infotainment sempat merekam gambar ABG mewek sambil bilang, "Justin jahat. Aku dicuekkin." Ya kali deh. Labil. 

Tak semua orang menyukai sosok Justin Bieber. Jumlah haters dan loversnya mungkin berbanding sama. Buktinya, mayoritas sahabat saya menunjukkan ekspresi tidak suka saat saya memuji betapa talented brother Justin. Hal serupa juga terjadi pada SM*SH. Disukai sekaligus dibenci disaat yang bersamaan.

Masifnya pengaruh sosok idola terhadap kehidupan masyarakat Indonesia bukan barang baru, dan hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan. Mereka menjadi opinion leader juga, secara tidak langsung. Apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berpacaran, secara otomatis menjadi pengetahuan umum. Terlepas dari penting apa tidaknya, publik juga merasa berhak menyampaikan komentar mereka apapun itu. Hal yang bisa dilakukan sang idola hanyalah pasrah. 

'Seseorang' tidak akan menjadi 'seorang' tanpa media. Ya. Media yang pasti kita jumpai setiap hari dalam berbagai bentuk. Entah itu account social media, TV, radio, majalah, koran, dan internet. Band bernuansa Melayu yang membuat telinga saya berdenging, terkenal karena diliput oleh media. 

Disini, fungsi media akan membentuk suatu budaya yang dikenal dengan budaya massa atau POP CULTURE. Budaya yang dianggap umum dan menentukan selera pasar secara keseluruhan. Hasilnya ya  komersialisasi karya seni. Sebuah karya akan dianggap menjual jika mengikuti selera pasar. Contohnya boleh dilihat pada nama-nama yang saya sebutkan diatas. 


Bagaimana nasib seniman yang memilih untuk mengikuti idealisme mereka? Sudah kenalan belum sama budaya INDIE? Indie yang merupakan akronim dari 'independence' mengalami perkembangan yang cukup pesat dan mendapatkan review yang cukup baik dari para kritikus. Mengapa? Karena karya yang mereka hasilkan memiliki personal touch dan berkualitas. White Shoes and The Couples Company, Mocca, Maliq n D'Essentials, Agrikulture, Seringai adalah sekian banyak dari musisi Indonesia yang sukses menampilkan musik yang berbeda dan dapat diterima oleh masyarakat. 


Lalu, kemanakah seharusnya media berpihak? Lebih baik mana, musisi dari label major atau indie? Semuanya itu hanya bisa dijawab oleh si penikmat musik itu sendiri. Namanya juga selera. Siapa yang berhak memaksakan? Kalau tidak suka, kan bisa memilih untuk belajar menyukai atau matikan saja suaranya. 

Saturday, October 1, 2011

Apakah Pancasila (Masih) Sakti?

30 September 1965. Menjelang subuh 1 Oktober 1965, enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah menumpas oknum-oknum yang diduga terlibat aktivitas Partai Komunis Indonesia tanpa jalur pengadilan. Peristiwa tahun 1965 ini sukses menjadi common sorrow bagi anggota keluarga mereka yang belum tentu bersalah secara hukum. Mereka seolah telah di-blacklist sehingga kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Setelah peristiwa yang dikenal dengan nama Gestapu tersebut, dibangunlah Monumen Pancasila Sakti atas gagasan Almarhum Presiden Soeharto di wilayah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Sebuah monumen yang didirikan sebagai bentuk penghargaan dan pengingat.

Penghargaan kepada Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia dari ancaman komunis. Pengingat bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan Pancasila bersama-sama, walaupun mengorbankan nyawa yang tidak sedikit.

Mungkin peristiwa yang baru kita peringati minggu ini hanyalah konspirasi tingkat tinggi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa sejarah bangsa ini telah dimanipulasi untuk kepentingan beberapa pihak. Mungkin peristiwa yang terjadi sebenarnya tidak akan pernah terungkap. Namun, ada baiknya kita melihat pembelajaran yang bisa kita peroleh dari setiap peristiwa yang tertoreh dalam sejarah agar tidak terulang lagi.

Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa 30 September 1965 adalah konspirasi, kita disadarkan bahwa pengamalan Pancasila sebagai ideologi harus menjadi jiwa setiap warga negara Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang disusun oleh Muhammad Yamin dan Soekarno bukan sebagai pelengkap Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.


Ideologi memang tidak setinggi agama. Agama yang dianut memberikan sejumlah peraturan bagi umatnya. Bagaimana mereka menjalankannya, itu menjadi urusan pribadi setiap individu dengan Sang Pencipta. Lalu, apakah hal yang sama juga terjadi dengan ideologi? Kepada siapakah seseorang mempertanggungjawabkan pelanggarannya terhadap Pancasila?

Jawabannya kembali lagi kepada kalimat sederhana, “Manusia adalah makhluk sosial.” Apapun yang dilakukan setiap orang berdampak kepada lingkungan sekitarnya. Keadaan ini diperjelas oleh media yang menjadi santapan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Hal paling jelas terlihat saat pengeboman gereja di Solo tanggal 25 September 2011 lalu. Kota Solo yang dikenal karena ketenangannya langsung geger akibat ulah oknum yang merelakan dirinya menjadi korban pertama dari peristiwa tersebut. Beberapa pihak mulai menuding, sementara yang lainnya bersikap defensif. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah menyelidiki kejadian ini berdasarkan asas kemanusiaan, bukan keagamaan.

Jika dalam kasus Gerakan 30 September 1965, bangsa Indonesia bersama pemerintah bisa mengambil tindakan tegas dalam pelanggaran ideologi yang belum terbukti kurang baik jika dilaksanakan. Bagaimana halnya dengan pelanggaran hak asasi manusia yang menjadi pembicaraan hangat di kalangan intelektualis humanis Indonesia?

Hak asasi manusia seperti hidup dalam damai tanpa peperangan antar etnis yang kerap diprovokasi oleh pihak anonim, beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing di tempat yang layak tanpa interupsi, sampai mengungkapkan opini di media publik. Sudahkah pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia berjalan sebagaimana semestinya? Bukankah hak asasi manusia merupakan bagian dari pengamalan Pancasila itu sendiri?

Sejatinya, Pancasila Sakti tidak akan pernah berakhir. Ia mungkin dianggap selesai saat Partai Komunis Indonesia ditumpas habis, tapi alangkah luar biasanya saat Pancasila yang mengandung unsur kemanusiaan dan keadilan berhasil dilaksanakan secara berdampingan oleh setiap warga negara demi negara Indonesia yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Hari ini adalah sebuah peringatan. Peringatan Pancasila Sakti. Marilah kita teruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi Pancasila dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cobalah untuk menghargai perbedaan. Sebuah sikap sederhana yang membawa dampak besar bagi bangsa yang terkenal keramahannya di mata dunia ini.  

Friday, September 23, 2011

Leila Lopes, Realita Cantik, dan Iklan

Geez. 12 September 2011. Leila Lopes dari Angola terpilih sebagai Miss Universe 2011. Mengalahkan Miss China, Miss Philippines,  Miss Brazil, dan Miss Ukraine, serta 83 Miss dari negara lainnya. 

Apa yang membuat mata saya tak berhenti menatap layar televisi saat event ini ditayangkan adalah ya, sosok Leila Lopes itu sendiri. Baru kali ini saya melihat seorang wanita pemenang beauty pageant tingkat internasional 'berbeda'.

Leila Lopes adalah cerminan wanita Afrika asli. Kulit berwarna gelap eksotis (asli, bukan hasil tanning) diimbangi perawatan yang tepat dan memiliki bibir tebal, seperti Tyra Banks atau Chanel Iman. Bandingkan dengan pemenang beauty pageant lainnya yang berkulit putih, bermata bulat kecokelatan, berambut coklat panjang. 

Ketika para wanita dan pria disuruh memilih, manakah tipe wanita ideal menurut mereka, saya yakin kita sudah tahu jawabannya. Semua serentak menunjuk Ximena Navarette, Stefania Fernandez, atau minimal Dayana Mendoza. 

Mengapa bisa begitu? 

Mungkinkah ini ada hubungannya dengan pengaruh iklan yang merongrong di semua media?

Bisa jadi! 

Kini fungsi iklan bukan hanya memberikan informasi mengenai produk yang ditawarkan (informasional), tapi juga mengubah sistem sosial dan perilaku konsumen (transformasional).
Orang tidak lagi membeli produk berdasarkan kegunaan, tapi juga melihat nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya. Prestise, misalnya. Fungsi barang-barang fashion itu sebenarnya sama saja. Untuk menunjang penampilan. Lalu, mengapa ada orang yang tergila-gila dengan branded items dengan harga yang jauh lebih mahal, coba? 

Bagaimana iklan bisa mengubah sistem sosial? 

Ingatkah kita dengan sosok chef idabul (idaman bule), Farah Quinn? Lalu, chef Marinka yang menjadi juri dalam tayangan Masterchef Indonesia? Jika pria mengabaikan wanita seperti saya yang hanya bisa memasak pasta instan, kita tahu siapa oknum yang harus disalahkan *smirk*

Contoh lainnya adalah iklan produk perawatan wajah dan kulit yang (katanya) bisa 'memutihkan' kulit, padahal hanya membuat kulit 'tampak lebih cerah'. Iklan seperti itu yang terus-menerus ditayangkan setiap commercial break, perlahan tapi pasti, membuat wanita menganggap bahwa cantik itu ya harus berkulit putih. Bagi wanita yang dari sananya sudah berkulit putih, akan merasa bahwa dia kurang langsing karena iklan slimming tea dan broadcast message CMP. Benar-benar lingkaran setan bagi wanita yang lebih mementingkan penampilan fisik ketimbang isi otak. 

Itulah tantangan sekaligus pemasukan terbesar bagi dunia periklanan Indonesia, terlebih bagi insan kreatif. Iklan kreatif seperti XL versi 'Kawin Sama Kambing' sempat menuai protes karena dianggap tidak mendidik bagi anak-anak. Iklan saja dituntut untuk mendidik. Namun, iklan kreatif XL yang dianggap 'kebohongan' itulah yang menyelamatkan XL dari kebangkrutan dan menjadikannya provider terfavorit di Indonesia. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan? 

Menurut saya, memilih acara televisi yang mendidik akan secara tidak langsung menentukan iklan yang ditayangkan. Iklan produk massal berkualitas menengah akan lebih banyak diputar saat primetime sinetron. Lihat saja kalau tidak percaya. 

Solusi lainnya adalah mengganti channel ke MTV Asia atau [V] Channel. Daripada melihat iklan, lebih baik kita mendengarkan lagu terbaru dari penyanyi favorit kita. Ya nggak?

Tuesday, September 20, 2011

Lebih Dari Sekedar Promosi

Menteri Budaya dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik telah mencanangkan kampanye Visit Indonesia sejak tahun 2008 yang berlanjut sampai dengan tahun 2011. Hasilnya? Tingkat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia tahun 2010 mencapai 7 juta orang. Dengan demikian, tercapailah target Kementerian Budaya dan Pariwisata. Dari kunjungan wisata mancanegara tersebut, devisa yang dihasilkan sebesar  lebih US$ 7 miliar atau Rp 63 triliun. 

Tidak hanya menambah devisa, sektor pariwisata juga bisa menambah lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar objek wisata tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bertebarannya pedagang makanan, souvenir, sampai baju yang berada di wilayah Gunung Tangkuban Perahu, Bandung.

Indonesia memiliki beragam objek wisata yang belum tentu bisa ditawarkan oleh negara lain, seperti wisata kuliner dengan makanan khas setiap daerah, kesenian (termasuk didalamnya upacara adat yang jarang diekspos oleh media), objek wisata alam, dan bangunan hasil karya manusia yang memiliki nilai historis.

Betapa kayanya Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura. Indonesia telah memiliki berbagai objek wisata yang hanya perlu penanganan khusus untuk membuatnya lebih menarik tanpa perlu membangun berbagai objek wisata buatan. Lalu, mengapa orang Indonesia masih memilih untuk berlibur ke Singapura? Apakah karena Singapura lebih terjaga kebersihan dan keamanannya? Jika iya, apakah 2 faktor tersebut tidak bisa dimiliki Indonesia? Apakah kebersihan dan keamanan itu sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah? Tidak, bukan? Jelas, bahwa perkembangan sektor pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga setiap elemen masyarakat.

Masyarakat Indonesia hendaknya memiliki kesadaran akan potensi pariwisata Indonesia. Adapun cara menumbuhkan ‘rasa’ tersebut adalah dengan memilih untuk berlibur dalam negeri. Jika bosan berkunjung ke factory outlet di Bandung, cobalah berpaling ke Kampung Batik Laweyan dan Kauman di Solo yang dikenal dengan batik rumahannya.

Sebagai turis domestik, kita akan mengetahui strength, weakness, opportunity, dan threat daerah wisata yang telah kita kunjungi. Ketika kita menemukan candi yang minim perawatan, otomatis kita akan berupaya untuk menjaga candi tersebut dengan tidak menginjak bagian candi yang sudah rapuh. Maksimalkan strength dengan pelestarian yang maksimal untuk meminimalisir weakness, manfaatkan opportunity untuk menangkal threat.  

Pemerintah memang telah membentuk Badan Promosi Pariwisata Indonesia dengan alokasi dana sebesar Rp 289 miliar untuk promosi. Promosi memang diperlukan untuk menarik lebih banyak wisatawan, namun ada baiknya kita terlebih dahulu membuat atmosfer yang nyaman agar promosi yang telah dilakukan tidak meninggalkan kesan menipu saat wisatawan menemui kenyataan yang berbeda di lapangan.

Indonesia telah memiliki 1 poin plus karena keramahan orang-orangnya, mari kita perlengkap poin Indonesia di kancah internasional dengan melestarikan apa yang telah menjadi milik kita dalam bentuk objek wisata!

§  Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia Sabtu, tanggal 22 Januari 2011

'Kelebihan' Sarjana

Hampir semua surat kabar nasional selalu menyajikan halaman khusus untuk berbagai lowongan kerja dari beragam perusahaan untuk pekerjaan apapun. Layaknya sebuah kamus yang berisi ribuan kata yang mungkin dicari oleh orang yang membutuhkan. Siapapun yang telah menginjak usia produktif pasti mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya selama sekolah. Pemilik usia produktif tentu saja jumlahnya mayoritas di Indonesia. Ironisnya, mengapa kurangnya lapangan pekerjaan masih menjadi masalah utama? Mungkinkah hal itu disebabkan oleh persyaratan lowongan kerja yang mewajibkan calon karyawannya menamatkan pendidikan Strata Satu?

Universitas adalah institusi pendidikan tertinggi di Indonesia, dimana masyarakat yang bergabung kedalamnya disebut ‘Mahasiswa’. Maha digunakan untuk menunjukkan sangat dan besar, sesuatu yang bersifat grand.

Biaya pendidikan yang mahal, terutama di tingkat universitas, menjadikan kehidupan kampus menjadi barang eksklusif yang belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Bagi orang-orang yang ingin belajar namun tidak memiliki biaya sedemikian besar, mereka akan mencari cara lain untuk meningkatkan skill agar bisa bersaing di dunia kerja.

Dilihat dari segi penguasaan kemampuan, jelas dimenangkan oleh siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan calon mahasiswa yang akhirnya mengikuti kursus dengan biaya yang lebih terjangkau dan waktu yang relatif lebih singkat, serta pembelajaran materi yang praktis.

Namun, mengapa perusahaan lebih memilih untuk mempekerjakan sarjana ketimbang orang yang telah memiliki pengalaman kerja? Apa lebihnya gelar dibanding keahlian yang sudah teruji?

Disini saya melihat sebuah ekspektasi perusahaan terhadap lulusan dari universitas. Ekspektasi seperti apa yang diharapkan sementara universitas dinilai hanya menekankan pembelajaran pada teori?

Mahasiswa tidak hanya menyandang gelar Sarjana dengan segudang pemahaman teori, tapi juga bagaimana bersikap layaknya seorang akademisi intelektual. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan inisiatif dari mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Mahasiswa akan belajar bagaimana berlaku asertif dalam mengungkapkan pendapat, berbicara di depan publik, beradaptasi dengan berbagai karakter, berpikir kritis, kepemimpinan, dan bekerja sama dalam tim. Soft skill seperti inilah yang dibutuhkan dalam dunia kerja, hanya bisa dipelajari selama masa perkuliahan, namun belum tentu bisa didapat di tempat kursus atau SMK.  

Lalu, bagaimanakah mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja setamat dari universitas? Disinilah peran universitas untuk memfasilitasi mahasiswanya dengan pembentukan karakter dan pengalaman kerja melalui magang.

Dengan peran aktif dari pihak universitas dan mahasiswa, diharapkan mampu menghasilkan lulusan berkualitas yang siap berkontribusi dalam dunia kerja sesuai minat dan bakat masing-masing melalui perusahaan yang mempercayakan sebuah pekerjaan pada mereka. 

§ Tulisan ini meraih Juara 1 dalam Kompetisi Penulisan Artikel dengan tema "Fly to Your Dream Job with Microsoft Technology" yang diumumkan pada tanggal 19 September 2011

Jurnalisme Oleh Kita, Sadarkah Kita?

Kurang lebih 2 minggu yang lalu, twitterland dihebohkan oleh terungkapnya identitas asli dari @Poconggg yang ternyata bernama asli Arief Muhammad, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti!! Heboh-heboh ternyata tetanggaan toh? 

Dimulai dari tweet konyol, seikat @Poconggg bisa memiliki 888.159 followers! Kegilaan ini berlanjut saat si @Poconggg fenomenal ini merilis buku 'Poconggg Juga Pocong' yang langsung sold out di toko buku seluruh Indonesia. Bukunya tipis, isinya pun dibilang lucu banget juga tidak, biasa saja. Harganya cuma dibanderol 36 ribu Rupiah saja. Sangat murah untuk sebuah buku bacaan iseng-iseng. 

Selain @Poconggg, pengguna twitter Indonesia pasti familiar atau follow account twitter @sherinamunaf dan @radityadika. Mereka mungkin dikenal sebagai artis atau penulis di dunia nyata, namun account twitter mereka menunjukkan sisi lain dari kepribadian mereka. Sherina yang kritis dan peduli terhadap isu global, terutama anak muda. Raditya Dika yang saya curigai memiliki kelebihan hormon 'ucul' (bahasa slang untuk 'lucu'). 

Kepemilikan account social media merupakan salah satu contoh sederhana dan menghibur dari citizen journalism, bahasa kerennya jurnalisme warga. Contoh 'serius'? @hansdavidian, @rahung, @fadjroel,  dan @IndraJPiliang mungkin. Mereka adalah orang-orang berkompeten dalam arus pertukaran informasi dan sering update tweet mengenai apa yang mereka rasakan atau pikirkan mengenai suatu peristiwa. 

Sebagai salah seorang pengguna twitter yang aktif 'berkicau', tanpa saya sadari, disinilah beberapa teori-teori komunikasi itu terbukti. 
  • 'Uses and Gratifications' membuat saya memilih untuk memantau timeline mereka ketimbang timeline @kompasdotcom dkk, karena kontennya lebih jujur dan terbuka. Mereka bisa menyajikan fakta yang tidak (atau belum?) tersentuh oleh media.
  • 'The Expectacy Value Theory' : Kepuasan yang kita cari dari media ditentukan oleh sikan kita terhadap media, atau kepercayaan kita tentang apa yang diberikan dan bagaimana kita mengevaluasi materi tersebut. Beberapa sahabat saya percaya bahwa berbagi kegalauan dengan update status Facebook atau tweeting itu efektif untuk mengurangi tingkat depresi lho!
Jika semua yang kita lakukan di dunia maya hanya untuk senang-senang tanpa tujuan serius, mungkin polemik berikut tidak akan terlalu bikin pusing. Apakah jurnalisme warga telah dilakukan berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik jurnalistik? Manakah yang lebih penting, kecepatan atau kelengkapan; partisipatori atau kualitas jurnalistik; dan ruang privat atau ruang publik?

Mungkin tidak semua orang memahami kode etik jurnalistik. Tidak semua orang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya terkait apa yang dipajangnya di account social media. Namun, akan lebih baik jika setiap orang berpikir lebih matang sebelum bertindak, apalagi di dunia maya. Tidak mau kan, kehilangan kesempatan akibat online fight atau curhat ngomel? 

Wednesday, September 7, 2011

L’ histoire unique de la France




  • Benarkah orang Perancis tidak mau berbicara bahasa lain selain bahasa Perancis? BETUL! Hal ini berkaitan dengan Revolusi Perancis, dimana bahasa Perancis mewakili semangat yang sama dan merakyat setelah sebelumnya hanya digunakan oleh kalangan kelas atas. Mirip dengan Sumpah Pemuda Indonesia, bukan?
  • Bendera Perancis yang disebut dengan 'Tricolore' menginspirasi negara-negara Eropa lainnya (seperti Italia, Belanda, Rusia, Jerman, dan Spanyol) untuk membuat bendera serupa karena menggambarkan semangat revolusi menjatuhkan negara monarki absolut.
  • Burung Garuda yang menjadi lambang dari Pancasila memiliki sahabat dari Perancis, yaitu AYAM JANTAN. Suku Gallia berpikir bahwa ayam jantan adalah lambang dari kekuatan dan laki-laki, dan pengucapannya merupakan homonim dari kata 'Gallus'. Sekarang ayam jantan menjadi logo Federasi Sepak Bola Perancis, walaupun dulu ayam jantan pernah ditolak oleh Napoleon Bonaparte.  
  • Suku bangsa yang menjadi akar orang Perancis adalah suku Gallia yang berasal dari suku Celtic. Kepercayaan mereka disebut Druid yang melakukan pemujaan dengan memberikan kepala atau darah orang sebagai persembahan. Untungnya kepercayaan ini menghilang seiring dengan penyebaran agama Kristen dari dominasi Romawi.
  • Jika kita mengenal sistem kasta di Bali, masyarakat Perancis abad pertengahan mengenal sistem feodal yang menempatkan petani dibawah kendali penguasa dan ksatria.
  • Selain memiliki sosok wanita berpengaruh seperti Marie Antoinette, Perancis juga memiliki pahlawan wanita, yaitu Jeanne d’Arc. Jeanne terjun ke perang antara Inggris dan Perancis karena mendengar suara Tuhan. Dia wafat dengan cap penyihir dan dibakar di Rouen sebelum akhirnya diberi gelar orang suci oleh Paus Benedictus XV pada tahun 1920.    
  • Louis XIV yang dijuluki Raja Matahari atau Maha Raja ternyata memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan. Walaupun menjadi raja ketika berusia 5 tahun, dia harus berkelana ke seluruh negeri karena terjadi pemberontakan dari kaum bangsawan. Kesal, dia mendirikan Château de Versailles yang merupakan lambang dari monarki absolut. Bagaimana Louis XIV tumbang? Penganiayaan oleh orang Protestan dan kehidupan istana yang mewah menimbulkan kesenjangan ekonomi dan Revolusi Perancis.
  • Napoleon Bonaparte meninggalkan beberapa ucapan terkenal. Salah satunya adalah, “Tidak ada yang mustahil dalam kamusku.”  Selain itu, dia tak pernah melewati pintu Arc de Triomphe yang selesai dibangun pada tahun 1836 untuk memperingati kemenangannya.
  • Membayangkan Istana Versailles yang dibangun serba megah dan mewah, lengkap dengan Hall of Mirrors berhiaskan fresco, tahukah Anda, apakah ruangan yang tidak ada di situ? TOILET! Pada masa pemerintahan Louis Phillipe di abad 19, istana ini digunakan sebagai galeri dan dihilangkannyalah ruangan-ruangan kecil seperti toilet.   

"Cukup Tahu Saja" : Sebuah Kepedulian Massal Atas Nama Nasionalisme

Lagi. Bahrain menang melawan Indonesia dalam pertandingan Kualifikasi Pra-Piala Dunia 2014 di tanggal 6 September 2011 dengan skor 2-0. Indonesia kalah 5 gol tanpa perlawanan dalam 2 pertandingan. Kabar buruk bagi pendukung tim nasional, tentu saja. Menurut saya, kekalahan itu lebih disebabkan oleh mental pemain Indonesia yang cenderung menyalahkan dan mencari-cari alasan. Entah perlakuan suporter tuan rumah yang kurang baik saat tandang, postur tubuh yang kalah kekar, kondisi lapangan yang tidak terawat, dan saya masih menunggu alasan untuk kekalahan mereka malam ini. 

Twitter saya selalu berkicau sepanjang pertandingan. Entah itu tweet berisi guyonan, dukungan penuh semangat, maupun lontaran sinis. Saya? Saya hanya me-retweet tweet lucu dan sesekali mengomentari. Apakah saya menonton aksi heroik Tim Garuda? TIDAK. 

Mengapa tidak? Apakah saya tidak mendukung tim nasional Indonesia? Kalo jawaban saya TIDAK, bisa dipastikan orang akan menilai saya TIDAK NASIONALIS.


Kalimat berikut saya kutip dari blog Pandji Pragiwaksono (www.pandji.com) : "Dalam bahasa sederhana, Nasionalisme adalah paham yang percaya bahwa perbedaan dalam sebuah negara harus dipersatukan. Agar negara yang penuh dengan keragaman itu bisa hidup dalam persatuan dan keharmonisan."

Kebangkitan sepakbola Indonesia merupakan salah satu momentum untuk menumbuhkan kembali rasa optimis masyarakat yang terkubur oleh pelaksanaan politik di dalam lembaga olahraga itu sendiri. Carut-marut PSSI, terbentuknya LPI, dilemma kepemimpinan PSSI yang saking leletnya sampai diselenggarakan sidang luar biasa oleh FIFA. Itu lebih dari cukup untuk menghapus nama Indonesia dari persebakbolaan dunia. Untunglah Indonesia masih sempat bermain baik di AFF Suzuki Cup 2010. 

Dalam pengertian saya, dukungan seseorang terhadap tim nasional Indonesia adalah cara paling sederhana yang bisa dilakukan untuk menunjukkan nasionalisme. Ibaratnya, 1 diantara 10.000 atau bahkan lebih cara lain yang masih tersedia di luar sana untuk menunjukkan seberapa nasionaliskah Anda. 

Saya memilih untuk tidak ikut-ikutan mendukung tim nasional Indonesia, bukan berarti saya tidak peduli dan pesimis. Bukan berarti juga saya tidak nasionalis. Kalau saya tidak peduli, mengapa saya meributkan terhentinya pertandingan selama 15 menit karena penonton yang menyalakan petasan? Buat saya, penonton itu masih memiliki cara pandang yang salah mengenai nasionalisme. Mereka tidak memikirkan apa akibat dari perbuatannya terhadap citra Indonesia di mata FIFA. Bagaimana Indonesia bisa terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia jika dinilai tidak mampu menjamin keamanan tim negara lain karena ulah penonton?

Selain urusan nasionalisme sepakbola, Indonesia juga memiliki nasionalisme 'koin'. Dimulai dari gerakan Coin A Chance, berlanjut ke Koin Prita, Koin Cinta Bilqis, #KoinSastra, disusul Gerakan 1000 Rupiah Peduli Shafa dan Azka. 

Untuk hal yang satu ini, saya juga tidak terlalu peduli dengan menyumbangkan sejumlah uang ke rekening yang tersedia. Padahal, gerakan semacam ini membuktikan bahwa masyarakat bisa bersatu untuk memperjuangkan nasib anak manusia lainnya karena perasaan senasib. Sesuai dengan makna nasionalisme.

Mengapa lagi? 

Karena hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi awareness saya. Kepedulian saya yang sebenarnya. Hal yang menurut saya lebih penting. Salah satunya adalah tantangan yang dihadapi dalam menindaklanjuti eksploitasi lingkungan hidup. Saya lebih tertarik untuk berdiskusi mengenai langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global ketimbang masalah penyakit langka.
  
Sebagai seorang mahasiswi, saya merasa wajib untuk mengetahui perkembangan dari apapun yang terjadi di luar ruang gerak saya. Namun, untuk berbuat sesuatu yang nyata, turut serta dalam kerepotan yang terjadi, saya cukup mengatakan, "Cukup tahu saja," sambil tetap melakukan apa yang menjadi passion saya.  

Setiap orang berhak memilih caranya sendiri untuk menjadi nasionalis sejati. Bukan nasionalis metropolis yang bersikap optimis, kemudian pesimis tanpa melakukan apapun, lalu bersikap apatis (lagi). Begitu juga dengan saya. Bagaimana dengan Anda?