Tuesday, September 20, 2011

Lebih Dari Sekedar Promosi

Menteri Budaya dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik telah mencanangkan kampanye Visit Indonesia sejak tahun 2008 yang berlanjut sampai dengan tahun 2011. Hasilnya? Tingkat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia tahun 2010 mencapai 7 juta orang. Dengan demikian, tercapailah target Kementerian Budaya dan Pariwisata. Dari kunjungan wisata mancanegara tersebut, devisa yang dihasilkan sebesar  lebih US$ 7 miliar atau Rp 63 triliun. 

Tidak hanya menambah devisa, sektor pariwisata juga bisa menambah lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar objek wisata tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bertebarannya pedagang makanan, souvenir, sampai baju yang berada di wilayah Gunung Tangkuban Perahu, Bandung.

Indonesia memiliki beragam objek wisata yang belum tentu bisa ditawarkan oleh negara lain, seperti wisata kuliner dengan makanan khas setiap daerah, kesenian (termasuk didalamnya upacara adat yang jarang diekspos oleh media), objek wisata alam, dan bangunan hasil karya manusia yang memiliki nilai historis.

Betapa kayanya Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura. Indonesia telah memiliki berbagai objek wisata yang hanya perlu penanganan khusus untuk membuatnya lebih menarik tanpa perlu membangun berbagai objek wisata buatan. Lalu, mengapa orang Indonesia masih memilih untuk berlibur ke Singapura? Apakah karena Singapura lebih terjaga kebersihan dan keamanannya? Jika iya, apakah 2 faktor tersebut tidak bisa dimiliki Indonesia? Apakah kebersihan dan keamanan itu sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah? Tidak, bukan? Jelas, bahwa perkembangan sektor pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga setiap elemen masyarakat.

Masyarakat Indonesia hendaknya memiliki kesadaran akan potensi pariwisata Indonesia. Adapun cara menumbuhkan ‘rasa’ tersebut adalah dengan memilih untuk berlibur dalam negeri. Jika bosan berkunjung ke factory outlet di Bandung, cobalah berpaling ke Kampung Batik Laweyan dan Kauman di Solo yang dikenal dengan batik rumahannya.

Sebagai turis domestik, kita akan mengetahui strength, weakness, opportunity, dan threat daerah wisata yang telah kita kunjungi. Ketika kita menemukan candi yang minim perawatan, otomatis kita akan berupaya untuk menjaga candi tersebut dengan tidak menginjak bagian candi yang sudah rapuh. Maksimalkan strength dengan pelestarian yang maksimal untuk meminimalisir weakness, manfaatkan opportunity untuk menangkal threat.  

Pemerintah memang telah membentuk Badan Promosi Pariwisata Indonesia dengan alokasi dana sebesar Rp 289 miliar untuk promosi. Promosi memang diperlukan untuk menarik lebih banyak wisatawan, namun ada baiknya kita terlebih dahulu membuat atmosfer yang nyaman agar promosi yang telah dilakukan tidak meninggalkan kesan menipu saat wisatawan menemui kenyataan yang berbeda di lapangan.

Indonesia telah memiliki 1 poin plus karena keramahan orang-orangnya, mari kita perlengkap poin Indonesia di kancah internasional dengan melestarikan apa yang telah menjadi milik kita dalam bentuk objek wisata!

§  Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia Sabtu, tanggal 22 Januari 2011

No comments:

Post a Comment