Thursday, February 21, 2013

Move On : Be Honest to Yourself First


Nggak terasa sudah seminggu lewat Hari Valentine tahun Ular Air,
Malam Valentine gue lalui di Plaza Senayan XXI untuk nonton film Rectoverso bareng seorang teman. Teman sesama moviegoer. Mengemban tugas live report dan nulis review.

Tanpa sepengetahuan orang-orang yang selama ini dikenal sebagai sahabat.

Mereka jadi bagian dari hidup gue sejak awal kuliah. Empat tahun. Kita nggak selalu bersama-sama. Beberapa pilihan dan desakan kerap menjadi pemisah. Namun toh ujungnya kita tetap lulus dan wisuda bareng.

Sesuai rencana, malam itu, mereka akan mengadakan farewell untuk kawan paling bungsu sebelum dia berangkat ke Cina hari Minggu ini. Farewell? Oke. Dinner, dilanjutkan nongkrong di coffee shop.

Tidak ada undangan terbuka dari mereka yang sampai ke gue. Hanya saja, seorang sahabat sempat mengajak ikut serta. Bayar masing-masing. Keuangan gue lagi di ambang sekarat. #iniserius #jujur

Keputusan final. Gue nggak ikut.

Kemudian, datanglah undangan nonton bareng film itu via WhatsApp. #ahsudahlah

***

Keesokan paginya, gue berpikir, “Kalo mereka memang sahabat gue, kenapa gue bisa semalas ini sih, cuma buat ketemuan? Padahal kapan lagi gue bisa meluk si bungsu?”

Refleksi sekian menit itu membimbing gue ke titik dari pertanyaan tersebut.

Kita. Gue. Mereka. Berbeda.

Apa yang penting menurut gue, nggak begitu penting bagi mereka.
Berlaku juga sebaliknya.

Menilik sebentar ke masa kuliah, waktu gue tersita untuk organisasi dan networking.

#IMO Apapun yang gue makan, berapa budget gue buat shopping, itu rahasia dompet dan panca indera gue. Kadang kamera dan Twitter pun sering gue suruh buat kepo. #ngaku #jujur

Sementara,

#BahagiaItuSesederhana Mendengarkan teman berbagi impiannya ke gue. Mau jadi entrepreneur atau CEO, jalan-jalan keliling dunia, ikutan reality show, melanjutkan kuliah, sampai berkolaborasi bikin suatu karya. Apapun!

Satu hal yang penting dan sering jadi topik pembicaraan antar mereka, yaitu keluarga.
Gue adalah anak tunggal yang dibesarkan oleh single parent mother. Hubungan keluarga gue … ya begitulah. Banyak hal yang telah terjadi di masa lalu dan gue nggak kuasa buat memperbaikinya. Keadaan kini terlampau canggung. Lucunya, gue merasa nyaman dalam kondisi seperti ini.

Ketidaknyamanan gue muncul saat mereka mulai memamerkan foto keponakan imut-imut lucu lalu bercerita tentang oom super humoris dan tante ini-itu. Sesuatu yang belum bisa gue miliki sampai saat ini. Bukan karena kesalahan gue. Bukan salah siapa-siapa juga.

Gue enggan menimpakan semuanya kepada Semesta. Serius. Takut kena bala. Dikiranya gue nggak bisa bersyukur. 

***

Gue sudah terbiasa untuk menikmati kesendirian. Tapi gue sebisa mungkin menghindari kesepian, yang sering muncul saat gue bersama mereka. Aneh? Banget!

Rasanya kurang lebih seperti luka yang sudah sembuh, digelitikin sama temen pake bulu kemoceng. Gatal, tapi nggak boleh digaruk. Kecuali kalo mau luka itu menimbulkan bekas yang susah hilang.

Got it?

***

Konon, orang sombong adalah orang yang jarang mau diajak nongkrong bareng. Tanpa tahu apa penyebabnya, gue membangun 'benteng' di hadapan mereka. Salah? Bukankah setiap orang akan menjauh dari hal yang membuatnya terasa asing?

Saat itu, gue sendiri pun belum tahu dimana letak persoalannya. Gue terlalu sibuk bersembunyi di balik alasan yang gue karang sendiri. Mau tahu alasan paling ampuh? Libatkan Nyokap. #iniserius

Sekarang?

Gue nggak pernah merasa selega ini. 

***

Move on.

Bagi gue, itu adalah sebuah tekad. Tekad untuk memaafkan dan memahami pembelajaran yang terselip. Tentunya setelah fase jujur sama diri sendiri.

Bukankah kita selalu menghendaki keterbukaan dan kejujuran dalam setiap hubungan?

Lalu, mengapa tidak diterapkan dahulu pada diri sendiri?

#Katanya “Find the love you seek, by first finding the love within yourself.”

Gue setuju. Kalian bagaimana?

#Katanya @andri_cung “In life, we never lose friends. We only learn who our true ones are.”

NAH! So? Thanks for being my friends!


XOXO,
Novena Adelweis Gisela