Wednesday, March 6, 2013

Universal Rules of Luck ♥


#FaktanyaAdalah Saya. Kamu. Kita semua punya keberuntungan. Belum merasa beruntung? Mungkin cara-cara di bawah ini bisa memperlancar aliran hoki kita. Coba deh!

  1. “Memang kalo rejeki datang, bentuknya beda-beda. Ada yang bentuknya uang, peluang, kemudahan, hadiah, apa aja deh.” - @St_Agustaf. Banyak ya? Hayo ditelaah, keberuntungan apa saja yang saat ini sudah kita miliki?
  2. Kenali diri sendiri. Cari tahu apa yang paling kita inginkan. Minimal itu akan bikin kita lebih fokus dalam prosesnya. Proses? Iya. Ora et labora
  3.  Kadang keberuntungan lebih dulu mampir ke kehidupan orang terdekat kita. Stay cool. Nanti juga tiba giliran kita. *duduk manis menunggu*
  4. Kalo giliran kita yang kebagian hoki, hak kita sepenuhnya mau berbagi dengan siapa. Nah! Biasanya orang yang kita bagi itu punya kriteria tertentu, bukan? Baik itu kedengarannya cliché banget, tapi benar. Jadi? Berbaik hatilah dengan semua orang, tulus.
  5. Be honest. Tepati janji kita untuk sharing dengan orang ‘pilihan’. #SepeleTapiPenting
  6. Setiap orang yang mampir di hidup kita pasti bawa ‘sesuatu’. Tugas kita selanjutnya adalah mencari tahu, sesuatu itu baik atau buruk. But most of all, ambil maknanya ya. #LessonLearned
  7. Begitu juga sebaliknya. Di tangan kita juga ada ‘titipan’ punya orang lain. Yuk kita sampaikan.
  8. Jangan serakah. Alih-alih mendapatkan semuanya, kita nggak akan mendapatkan apapun.
  9. Keep humble and low profile. Tetap optimis kalo Semesta bakal memberikan yang terbaik untuk kita tepat pada waktunya.
  10.  Above all, be grateful. Kalo nggak, nanti keberuntungan kita ‘terbang’ karena gak dihargai. 

Sudah? Semoga setelah ini, kehidupan kita bisa membawa keberuntungan juga buat orang lain ya! May The Force Be With Us! *Star Wars Mode*

Thursday, February 21, 2013

Move On : Be Honest to Yourself First


Nggak terasa sudah seminggu lewat Hari Valentine tahun Ular Air,
Malam Valentine gue lalui di Plaza Senayan XXI untuk nonton film Rectoverso bareng seorang teman. Teman sesama moviegoer. Mengemban tugas live report dan nulis review.

Tanpa sepengetahuan orang-orang yang selama ini dikenal sebagai sahabat.

Mereka jadi bagian dari hidup gue sejak awal kuliah. Empat tahun. Kita nggak selalu bersama-sama. Beberapa pilihan dan desakan kerap menjadi pemisah. Namun toh ujungnya kita tetap lulus dan wisuda bareng.

Sesuai rencana, malam itu, mereka akan mengadakan farewell untuk kawan paling bungsu sebelum dia berangkat ke Cina hari Minggu ini. Farewell? Oke. Dinner, dilanjutkan nongkrong di coffee shop.

Tidak ada undangan terbuka dari mereka yang sampai ke gue. Hanya saja, seorang sahabat sempat mengajak ikut serta. Bayar masing-masing. Keuangan gue lagi di ambang sekarat. #iniserius #jujur

Keputusan final. Gue nggak ikut.

Kemudian, datanglah undangan nonton bareng film itu via WhatsApp. #ahsudahlah

***

Keesokan paginya, gue berpikir, “Kalo mereka memang sahabat gue, kenapa gue bisa semalas ini sih, cuma buat ketemuan? Padahal kapan lagi gue bisa meluk si bungsu?”

Refleksi sekian menit itu membimbing gue ke titik dari pertanyaan tersebut.

Kita. Gue. Mereka. Berbeda.

Apa yang penting menurut gue, nggak begitu penting bagi mereka.
Berlaku juga sebaliknya.

Menilik sebentar ke masa kuliah, waktu gue tersita untuk organisasi dan networking.

#IMO Apapun yang gue makan, berapa budget gue buat shopping, itu rahasia dompet dan panca indera gue. Kadang kamera dan Twitter pun sering gue suruh buat kepo. #ngaku #jujur

Sementara,

#BahagiaItuSesederhana Mendengarkan teman berbagi impiannya ke gue. Mau jadi entrepreneur atau CEO, jalan-jalan keliling dunia, ikutan reality show, melanjutkan kuliah, sampai berkolaborasi bikin suatu karya. Apapun!

Satu hal yang penting dan sering jadi topik pembicaraan antar mereka, yaitu keluarga.
Gue adalah anak tunggal yang dibesarkan oleh single parent mother. Hubungan keluarga gue … ya begitulah. Banyak hal yang telah terjadi di masa lalu dan gue nggak kuasa buat memperbaikinya. Keadaan kini terlampau canggung. Lucunya, gue merasa nyaman dalam kondisi seperti ini.

Ketidaknyamanan gue muncul saat mereka mulai memamerkan foto keponakan imut-imut lucu lalu bercerita tentang oom super humoris dan tante ini-itu. Sesuatu yang belum bisa gue miliki sampai saat ini. Bukan karena kesalahan gue. Bukan salah siapa-siapa juga.

Gue enggan menimpakan semuanya kepada Semesta. Serius. Takut kena bala. Dikiranya gue nggak bisa bersyukur. 

***

Gue sudah terbiasa untuk menikmati kesendirian. Tapi gue sebisa mungkin menghindari kesepian, yang sering muncul saat gue bersama mereka. Aneh? Banget!

Rasanya kurang lebih seperti luka yang sudah sembuh, digelitikin sama temen pake bulu kemoceng. Gatal, tapi nggak boleh digaruk. Kecuali kalo mau luka itu menimbulkan bekas yang susah hilang.

Got it?

***

Konon, orang sombong adalah orang yang jarang mau diajak nongkrong bareng. Tanpa tahu apa penyebabnya, gue membangun 'benteng' di hadapan mereka. Salah? Bukankah setiap orang akan menjauh dari hal yang membuatnya terasa asing?

Saat itu, gue sendiri pun belum tahu dimana letak persoalannya. Gue terlalu sibuk bersembunyi di balik alasan yang gue karang sendiri. Mau tahu alasan paling ampuh? Libatkan Nyokap. #iniserius

Sekarang?

Gue nggak pernah merasa selega ini. 

***

Move on.

Bagi gue, itu adalah sebuah tekad. Tekad untuk memaafkan dan memahami pembelajaran yang terselip. Tentunya setelah fase jujur sama diri sendiri.

Bukankah kita selalu menghendaki keterbukaan dan kejujuran dalam setiap hubungan?

Lalu, mengapa tidak diterapkan dahulu pada diri sendiri?

#Katanya “Find the love you seek, by first finding the love within yourself.”

Gue setuju. Kalian bagaimana?

#Katanya @andri_cung “In life, we never lose friends. We only learn who our true ones are.”

NAH! So? Thanks for being my friends!


XOXO,
Novena Adelweis Gisela

Saturday, December 10, 2011

Revolusi (oleh) Facebook

Kita semua mengetahui kelebihan Facebook sebagai situs social media yang interaktif, virtual, bisa menyampaikan informasi dengan cepat, dengan biaya yang murah. Namun, dibalik fungsinya sebagai media pertemanan, ternyata Facebook bisa dirancang untuk menggerakan suatu bangsa untuk menjadi lebih kritis terhadap sistem pemerintahan mereka yang dianggap merugikan rakyat  dan melakukan suatu revolusi melawan Husni Mubarak. 

Salah satu dosen pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, yakni Ibu Riris Loisa, tertarik untuk melakukan riset terkait dengan revolusi Mesir yang terjadi pada awal tahun 2011 lalu. Riset ini dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan dasar-dasar semiotika dan analisis wacana.

Jika membaca majalah pada akhir tahun, pasti suka menemukan segmen khusus yang membahas peristiwa penting di tahun itu. Nah! Revolusi Mesir, yang akrab disebut dengan 'Revolusi Facebook' pasti termasuk didalamnya. 




Kejadian ini bermula saat seorang aktivis Facebook berusia 29 tahun bernama Khaled Said ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Kemungkinan besar dia ditangkap oleh aparat dan disiksa sebelum dibunuh. 

Seorang Marketing Manager Google asal Mesir bernama Wheil Ghonim yang tinggal di Uni Emirates Arab, membuat suatu gerakan di Facebook yang didukung oleh rakyat Mesir bernama 'We Are All Khaled Said'. Khaled Said didaulat sebagai icon perubahan. 




Penunjukan icon dan pemanfaatan momentum dimaksudkan untuk membentuk kesadaran kritis  mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan. Terbentuklah sebuah identitas yang powerful setelah mereka menetapkan Husni Mubarak sebagai common enemy karena pemerintahannya yang diktator. 

Hal ini sekaligus membuktikan teori Manuelle Castell yang mengatakan bahwa 'Orang dengan kepentingan yang sama akan berkumpul di media sosial, menyadari identitas mereka yang powerless, kemudian mengubahnya menjadi powerful. 

Diperlihatkannya foto kondisi penindasan dengan gambaran yang diinginkan dalam Facebook merupakan projected identity. Before and after yang mempersatukan keinginan untuk merdeka dari tekanan pemerintahan. 

Relevankah teori ini dipakai dalam konteks lainnya? Tentu saja relevan, apalagi jika menyangkut kepentingan krusial orang banyak. Diperlukan seorang icon atau sebuah momentum untuk menyentil masyarakat, "Hei. Kita perlu berubah, dan menjadi bagian dari perubahan ini."

Antara Public Relations, Jurnalistik, dan Periklanan

Sebenarnya, ada begitu banyak yang bisa dipelajari dari ilmu komunikasi. Marketing Communications, Public Speaking, Mass Communications, dan lain-lain. Namun, hanya ada 3 jurusan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Public Relations, Jurnalistik, dan Advertising

Menurut salah satu majalah wanita yang pernah saya baca, ketiga profesi ini merupakan salah satu dari profesi paling rentan stress. Waduh! Eh, nanti dulu. Mari kita bahas satu per satu, berdasarkan sisi akademis dan profesinya. Yuk!





PUBLIC RELATIONS
  • Profesi ini sering diidentikkan dengan wanita cantik, seksi, berpakaian serba mini, dunia entertainment, networking event, dan lain-lain. Benarkah? Seorang PR memang diwajibkan untuk berpenampilan menarik, namun tak harus glamour koq. Seperti kata pepatah lama nan manjur, kesan pertama itu segalanya. 
  • PR is about managing issues. Saat perusahaan didera isu tidak menyenangkan tentang kegagalan produk dan pelayanan jasa yang kurang sesuai, korupsi, konflik dengan masyarakat sekitar, dan lain-lain, PR seolah menjadi bumper bagi perusahaan. 




JURNALISTIK 
  • Idealnya, profesi ini akan bekerja di media. Ya media cetak, elektronik, dan internet. Bagi orang yang mobile, ini mengasyikan. Bagaimana tidak? Bertemu dengan banyak public figure, jadi orang pertama yang mengetahui update terbaru dari sebuah berita. 
  • Tapiiiiiii, siap-siap berurusan dengan deadline jika tidak pintar mengatur waktu. 
  • Profesi ini seringkali dianggap musuh PR. PR bertugas sebagai 'pelindung' image perusahaan, sementara reporter harus mencari berita untuk dimuat di media massa. 




ADVERTISING
  • Profesi ini dinilai paling banyak menghasilkan uang. Secara iklan itu ada dimana-mana, seiring dengan bertumbuhnya media. 
  • Kreativitas itu wajib bagi orang di bidang ini. Selalu dituntut untuk menghasilkan iklan kreatif yang diharapkan dapat mendongkrak penjualan produk secara langsung. 

Nah. Sekian dari saya. Jika ingin tahu lebih mendetail, silakan googling sendiri atau baca buku, karena buku adalah jendela dunia. Terima kasih.  

Iklan di Era New Media

Era new media ditandai oleh konvergensi media. Informasi dapat diakses dari 3 layar : TV, laptop atau tablet sebagai penunjang kerja, dan handheld macam Blackberry dan HP Android. Perubahan ini tentu saja berdampak pada pola perilaku. Masyarakat lebih menikmati menonton TV ketimbang membaca koran. Kini di Indonesia, ada 11 stasiun TV nasional. 

Selain itu, Indonesia memiliki 34 juta pengguna internet. Tercatat sebagai ke-5 terbesar di Asia. Mengapa demikian?
  • Tarif semakin murah. Banyak provider internet berlomba menawarkan tarif termurah, tergantung pada fitur dan bandwidth yang dibutuhkan.  
  • Jaringan mengglobal. Perusahaan memiliki media internal berupa newsletter, website, dan menggunakan Google dalam proses recruitment karyawannya.
  • Tak terbatasnya informasi yang tersedia
  • Bisa digunakan sebagai bisnis media online. Membeli sesuatu bisa dilakukan hanya dengan mengakses internet.

Untuk bisa memanfaatkan penggunaan teknologi internet dengan maksimal, kita harus mengetahui teknisnya media online, antara lain :
  • Content / platform is the king.
  • User behavior, online maupun offline.
  • Statistic, seperti tingkat traffic dan iklan.
  • Marketing.
  • Technology.
  • Make money. Industri kreatif membutuhkan internet sebagai media pemasarannya.
  • Culture. Menyesuaikan diri dengan perubahan. 

Bangsa yang maju ditentukan oleh seberapa sanggup mereka menguasai teknologi internet. Apakah Indonesia bisa?

Monday, December 5, 2011

Tantangan dan Perubahan dalam Media Komunikasi

Perubahan dalam setiap era kehidupan terjadi karena berkembangnya teknologi yang semakin memudahkan manusia untuk mengerjakan segala sesuatunya, termasuk di dalamnya memperoleh, membuat, dan menyebarkan informasi.

Kondisi seperti ini amatlah menarik jika ditilik dari sisi 'sebelum dan sesudah':
Sebelumnya, pesan dibuat oleh dan untuk audiens yang 'seragam'. Kini, audiens yang mulai bisa memilih pesannya disajikan sebuah pesan yang dipahami oleh segala kalangan.
Dulu, pesan terbagi untuk publik internal dan eksternal. Sekarang, semua pesan tersaji untuk setiap orang.
Masih ingatkah Anda, betapa sederhananya penerima pesan sebelum era New Age? Pesan hanya ditujukan untuk pelanggan, karyawan, pemegang saham, dan publik general. Sekarang, publik terbagi menjadi anak muda, karyawan kelas menengah, senior executives, dan lain-lain.

Lalu, apakah konten informasinya juga berubah sesuai selera masyarakat? Survei Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) membuktikan bahwa berita kriminal, olahraga, dan bencana masih tetap menjual; sementara berita mengenai kesehatan, gaya hidup, dan pendidikan mulai menjadi favorit; serta berita bisnis dan politik yang memiliki sedikit peminat. Selain itu, media sudah mulai mendengarkan saran dari audiensnya. 

Tak hanya perubahan dari segi audiens dan konten, media pun sekarang berganyung kepada social media yang bersifat personalized account. Namun, peran media massa tetap diperlukan sebagai pengklarifikasi dari informasi yang diragukan kebenarannya jika disampaikan melalui twitter (misalnya).  
  

Tuesday, November 22, 2011

Profesi Komunikasi dan Fotografi Digital

Perlukah mahasiswa fakultas ilmu komunikasi menguasai fotografi?

Rasanya perlu. Mengingat fotografi dengan kamera DSLR menjadi hobi dadakan anak muda. Harga kamera DSLR serta perangkatnya pun semakin terjangkau. Tak lagi semahal dulu dengan berbagai pilihan merek dan range harga. Berbagai software pelengkapnya tersedia dimana-mana dan mudah digunakan, seperti Adobe Photoshop.

Apapun profesi komunikasi yang dijalani, minimal harus menguasai teknik fotografi. Mulai dari pengambilan gambar melalui angle yang tepat, menangkap sebuah momen, mengedit hasilnya sampai sesuai yang dibutuhkan, sampai menyimpannya dengan format yang benar agak tidak mengurangi kualitas foto.

Dalam dunia jurnalistik, proses tercetaknya sebuah foto di media massa dimulai dari reporter yang bertugas untuk menulis berita, sementara fotografer melampirkan hasil jepretannya untuk dilayout oleh desainer grafis. 

Mahasiswa yang mengambil jurusan periklanan pasti familiar dengan pemotretan produk untuk print advertisement. Begitu juga dengan mahasiswa jurusan public relations, ada kalanya sebuah press release harus dilengkapi dengan foto. 

Untuk kualitas gambar yang baik, disarankan menggunakan format RAW tanpa penurunan mutu. Jika dikonversi dalam format JPEG, beratnya kurang lebih 1 sampai 2 MB dengan 24 bit colours kurang lebih 16 juta warna.