Friday, September 23, 2011

Leila Lopes, Realita Cantik, dan Iklan

Geez. 12 September 2011. Leila Lopes dari Angola terpilih sebagai Miss Universe 2011. Mengalahkan Miss China, Miss Philippines,  Miss Brazil, dan Miss Ukraine, serta 83 Miss dari negara lainnya. 

Apa yang membuat mata saya tak berhenti menatap layar televisi saat event ini ditayangkan adalah ya, sosok Leila Lopes itu sendiri. Baru kali ini saya melihat seorang wanita pemenang beauty pageant tingkat internasional 'berbeda'.

Leila Lopes adalah cerminan wanita Afrika asli. Kulit berwarna gelap eksotis (asli, bukan hasil tanning) diimbangi perawatan yang tepat dan memiliki bibir tebal, seperti Tyra Banks atau Chanel Iman. Bandingkan dengan pemenang beauty pageant lainnya yang berkulit putih, bermata bulat kecokelatan, berambut coklat panjang. 

Ketika para wanita dan pria disuruh memilih, manakah tipe wanita ideal menurut mereka, saya yakin kita sudah tahu jawabannya. Semua serentak menunjuk Ximena Navarette, Stefania Fernandez, atau minimal Dayana Mendoza. 

Mengapa bisa begitu? 

Mungkinkah ini ada hubungannya dengan pengaruh iklan yang merongrong di semua media?

Bisa jadi! 

Kini fungsi iklan bukan hanya memberikan informasi mengenai produk yang ditawarkan (informasional), tapi juga mengubah sistem sosial dan perilaku konsumen (transformasional).
Orang tidak lagi membeli produk berdasarkan kegunaan, tapi juga melihat nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya. Prestise, misalnya. Fungsi barang-barang fashion itu sebenarnya sama saja. Untuk menunjang penampilan. Lalu, mengapa ada orang yang tergila-gila dengan branded items dengan harga yang jauh lebih mahal, coba? 

Bagaimana iklan bisa mengubah sistem sosial? 

Ingatkah kita dengan sosok chef idabul (idaman bule), Farah Quinn? Lalu, chef Marinka yang menjadi juri dalam tayangan Masterchef Indonesia? Jika pria mengabaikan wanita seperti saya yang hanya bisa memasak pasta instan, kita tahu siapa oknum yang harus disalahkan *smirk*

Contoh lainnya adalah iklan produk perawatan wajah dan kulit yang (katanya) bisa 'memutihkan' kulit, padahal hanya membuat kulit 'tampak lebih cerah'. Iklan seperti itu yang terus-menerus ditayangkan setiap commercial break, perlahan tapi pasti, membuat wanita menganggap bahwa cantik itu ya harus berkulit putih. Bagi wanita yang dari sananya sudah berkulit putih, akan merasa bahwa dia kurang langsing karena iklan slimming tea dan broadcast message CMP. Benar-benar lingkaran setan bagi wanita yang lebih mementingkan penampilan fisik ketimbang isi otak. 

Itulah tantangan sekaligus pemasukan terbesar bagi dunia periklanan Indonesia, terlebih bagi insan kreatif. Iklan kreatif seperti XL versi 'Kawin Sama Kambing' sempat menuai protes karena dianggap tidak mendidik bagi anak-anak. Iklan saja dituntut untuk mendidik. Namun, iklan kreatif XL yang dianggap 'kebohongan' itulah yang menyelamatkan XL dari kebangkrutan dan menjadikannya provider terfavorit di Indonesia. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan? 

Menurut saya, memilih acara televisi yang mendidik akan secara tidak langsung menentukan iklan yang ditayangkan. Iklan produk massal berkualitas menengah akan lebih banyak diputar saat primetime sinetron. Lihat saja kalau tidak percaya. 

Solusi lainnya adalah mengganti channel ke MTV Asia atau [V] Channel. Daripada melihat iklan, lebih baik kita mendengarkan lagu terbaru dari penyanyi favorit kita. Ya nggak?

Tuesday, September 20, 2011

Lebih Dari Sekedar Promosi

Menteri Budaya dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik telah mencanangkan kampanye Visit Indonesia sejak tahun 2008 yang berlanjut sampai dengan tahun 2011. Hasilnya? Tingkat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia tahun 2010 mencapai 7 juta orang. Dengan demikian, tercapailah target Kementerian Budaya dan Pariwisata. Dari kunjungan wisata mancanegara tersebut, devisa yang dihasilkan sebesar  lebih US$ 7 miliar atau Rp 63 triliun. 

Tidak hanya menambah devisa, sektor pariwisata juga bisa menambah lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar objek wisata tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bertebarannya pedagang makanan, souvenir, sampai baju yang berada di wilayah Gunung Tangkuban Perahu, Bandung.

Indonesia memiliki beragam objek wisata yang belum tentu bisa ditawarkan oleh negara lain, seperti wisata kuliner dengan makanan khas setiap daerah, kesenian (termasuk didalamnya upacara adat yang jarang diekspos oleh media), objek wisata alam, dan bangunan hasil karya manusia yang memiliki nilai historis.

Betapa kayanya Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura. Indonesia telah memiliki berbagai objek wisata yang hanya perlu penanganan khusus untuk membuatnya lebih menarik tanpa perlu membangun berbagai objek wisata buatan. Lalu, mengapa orang Indonesia masih memilih untuk berlibur ke Singapura? Apakah karena Singapura lebih terjaga kebersihan dan keamanannya? Jika iya, apakah 2 faktor tersebut tidak bisa dimiliki Indonesia? Apakah kebersihan dan keamanan itu sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah? Tidak, bukan? Jelas, bahwa perkembangan sektor pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga setiap elemen masyarakat.

Masyarakat Indonesia hendaknya memiliki kesadaran akan potensi pariwisata Indonesia. Adapun cara menumbuhkan ‘rasa’ tersebut adalah dengan memilih untuk berlibur dalam negeri. Jika bosan berkunjung ke factory outlet di Bandung, cobalah berpaling ke Kampung Batik Laweyan dan Kauman di Solo yang dikenal dengan batik rumahannya.

Sebagai turis domestik, kita akan mengetahui strength, weakness, opportunity, dan threat daerah wisata yang telah kita kunjungi. Ketika kita menemukan candi yang minim perawatan, otomatis kita akan berupaya untuk menjaga candi tersebut dengan tidak menginjak bagian candi yang sudah rapuh. Maksimalkan strength dengan pelestarian yang maksimal untuk meminimalisir weakness, manfaatkan opportunity untuk menangkal threat.  

Pemerintah memang telah membentuk Badan Promosi Pariwisata Indonesia dengan alokasi dana sebesar Rp 289 miliar untuk promosi. Promosi memang diperlukan untuk menarik lebih banyak wisatawan, namun ada baiknya kita terlebih dahulu membuat atmosfer yang nyaman agar promosi yang telah dilakukan tidak meninggalkan kesan menipu saat wisatawan menemui kenyataan yang berbeda di lapangan.

Indonesia telah memiliki 1 poin plus karena keramahan orang-orangnya, mari kita perlengkap poin Indonesia di kancah internasional dengan melestarikan apa yang telah menjadi milik kita dalam bentuk objek wisata!

§  Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia Sabtu, tanggal 22 Januari 2011

'Kelebihan' Sarjana

Hampir semua surat kabar nasional selalu menyajikan halaman khusus untuk berbagai lowongan kerja dari beragam perusahaan untuk pekerjaan apapun. Layaknya sebuah kamus yang berisi ribuan kata yang mungkin dicari oleh orang yang membutuhkan. Siapapun yang telah menginjak usia produktif pasti mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya selama sekolah. Pemilik usia produktif tentu saja jumlahnya mayoritas di Indonesia. Ironisnya, mengapa kurangnya lapangan pekerjaan masih menjadi masalah utama? Mungkinkah hal itu disebabkan oleh persyaratan lowongan kerja yang mewajibkan calon karyawannya menamatkan pendidikan Strata Satu?

Universitas adalah institusi pendidikan tertinggi di Indonesia, dimana masyarakat yang bergabung kedalamnya disebut ‘Mahasiswa’. Maha digunakan untuk menunjukkan sangat dan besar, sesuatu yang bersifat grand.

Biaya pendidikan yang mahal, terutama di tingkat universitas, menjadikan kehidupan kampus menjadi barang eksklusif yang belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Bagi orang-orang yang ingin belajar namun tidak memiliki biaya sedemikian besar, mereka akan mencari cara lain untuk meningkatkan skill agar bisa bersaing di dunia kerja.

Dilihat dari segi penguasaan kemampuan, jelas dimenangkan oleh siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan calon mahasiswa yang akhirnya mengikuti kursus dengan biaya yang lebih terjangkau dan waktu yang relatif lebih singkat, serta pembelajaran materi yang praktis.

Namun, mengapa perusahaan lebih memilih untuk mempekerjakan sarjana ketimbang orang yang telah memiliki pengalaman kerja? Apa lebihnya gelar dibanding keahlian yang sudah teruji?

Disini saya melihat sebuah ekspektasi perusahaan terhadap lulusan dari universitas. Ekspektasi seperti apa yang diharapkan sementara universitas dinilai hanya menekankan pembelajaran pada teori?

Mahasiswa tidak hanya menyandang gelar Sarjana dengan segudang pemahaman teori, tapi juga bagaimana bersikap layaknya seorang akademisi intelektual. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan inisiatif dari mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Mahasiswa akan belajar bagaimana berlaku asertif dalam mengungkapkan pendapat, berbicara di depan publik, beradaptasi dengan berbagai karakter, berpikir kritis, kepemimpinan, dan bekerja sama dalam tim. Soft skill seperti inilah yang dibutuhkan dalam dunia kerja, hanya bisa dipelajari selama masa perkuliahan, namun belum tentu bisa didapat di tempat kursus atau SMK.  

Lalu, bagaimanakah mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja setamat dari universitas? Disinilah peran universitas untuk memfasilitasi mahasiswanya dengan pembentukan karakter dan pengalaman kerja melalui magang.

Dengan peran aktif dari pihak universitas dan mahasiswa, diharapkan mampu menghasilkan lulusan berkualitas yang siap berkontribusi dalam dunia kerja sesuai minat dan bakat masing-masing melalui perusahaan yang mempercayakan sebuah pekerjaan pada mereka. 

§ Tulisan ini meraih Juara 1 dalam Kompetisi Penulisan Artikel dengan tema "Fly to Your Dream Job with Microsoft Technology" yang diumumkan pada tanggal 19 September 2011

Jurnalisme Oleh Kita, Sadarkah Kita?

Kurang lebih 2 minggu yang lalu, twitterland dihebohkan oleh terungkapnya identitas asli dari @Poconggg yang ternyata bernama asli Arief Muhammad, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti!! Heboh-heboh ternyata tetanggaan toh? 

Dimulai dari tweet konyol, seikat @Poconggg bisa memiliki 888.159 followers! Kegilaan ini berlanjut saat si @Poconggg fenomenal ini merilis buku 'Poconggg Juga Pocong' yang langsung sold out di toko buku seluruh Indonesia. Bukunya tipis, isinya pun dibilang lucu banget juga tidak, biasa saja. Harganya cuma dibanderol 36 ribu Rupiah saja. Sangat murah untuk sebuah buku bacaan iseng-iseng. 

Selain @Poconggg, pengguna twitter Indonesia pasti familiar atau follow account twitter @sherinamunaf dan @radityadika. Mereka mungkin dikenal sebagai artis atau penulis di dunia nyata, namun account twitter mereka menunjukkan sisi lain dari kepribadian mereka. Sherina yang kritis dan peduli terhadap isu global, terutama anak muda. Raditya Dika yang saya curigai memiliki kelebihan hormon 'ucul' (bahasa slang untuk 'lucu'). 

Kepemilikan account social media merupakan salah satu contoh sederhana dan menghibur dari citizen journalism, bahasa kerennya jurnalisme warga. Contoh 'serius'? @hansdavidian, @rahung, @fadjroel,  dan @IndraJPiliang mungkin. Mereka adalah orang-orang berkompeten dalam arus pertukaran informasi dan sering update tweet mengenai apa yang mereka rasakan atau pikirkan mengenai suatu peristiwa. 

Sebagai salah seorang pengguna twitter yang aktif 'berkicau', tanpa saya sadari, disinilah beberapa teori-teori komunikasi itu terbukti. 
  • 'Uses and Gratifications' membuat saya memilih untuk memantau timeline mereka ketimbang timeline @kompasdotcom dkk, karena kontennya lebih jujur dan terbuka. Mereka bisa menyajikan fakta yang tidak (atau belum?) tersentuh oleh media.
  • 'The Expectacy Value Theory' : Kepuasan yang kita cari dari media ditentukan oleh sikan kita terhadap media, atau kepercayaan kita tentang apa yang diberikan dan bagaimana kita mengevaluasi materi tersebut. Beberapa sahabat saya percaya bahwa berbagi kegalauan dengan update status Facebook atau tweeting itu efektif untuk mengurangi tingkat depresi lho!
Jika semua yang kita lakukan di dunia maya hanya untuk senang-senang tanpa tujuan serius, mungkin polemik berikut tidak akan terlalu bikin pusing. Apakah jurnalisme warga telah dilakukan berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik jurnalistik? Manakah yang lebih penting, kecepatan atau kelengkapan; partisipatori atau kualitas jurnalistik; dan ruang privat atau ruang publik?

Mungkin tidak semua orang memahami kode etik jurnalistik. Tidak semua orang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya terkait apa yang dipajangnya di account social media. Namun, akan lebih baik jika setiap orang berpikir lebih matang sebelum bertindak, apalagi di dunia maya. Tidak mau kan, kehilangan kesempatan akibat online fight atau curhat ngomel? 

Wednesday, September 7, 2011

L’ histoire unique de la France




  • Benarkah orang Perancis tidak mau berbicara bahasa lain selain bahasa Perancis? BETUL! Hal ini berkaitan dengan Revolusi Perancis, dimana bahasa Perancis mewakili semangat yang sama dan merakyat setelah sebelumnya hanya digunakan oleh kalangan kelas atas. Mirip dengan Sumpah Pemuda Indonesia, bukan?
  • Bendera Perancis yang disebut dengan 'Tricolore' menginspirasi negara-negara Eropa lainnya (seperti Italia, Belanda, Rusia, Jerman, dan Spanyol) untuk membuat bendera serupa karena menggambarkan semangat revolusi menjatuhkan negara monarki absolut.
  • Burung Garuda yang menjadi lambang dari Pancasila memiliki sahabat dari Perancis, yaitu AYAM JANTAN. Suku Gallia berpikir bahwa ayam jantan adalah lambang dari kekuatan dan laki-laki, dan pengucapannya merupakan homonim dari kata 'Gallus'. Sekarang ayam jantan menjadi logo Federasi Sepak Bola Perancis, walaupun dulu ayam jantan pernah ditolak oleh Napoleon Bonaparte.  
  • Suku bangsa yang menjadi akar orang Perancis adalah suku Gallia yang berasal dari suku Celtic. Kepercayaan mereka disebut Druid yang melakukan pemujaan dengan memberikan kepala atau darah orang sebagai persembahan. Untungnya kepercayaan ini menghilang seiring dengan penyebaran agama Kristen dari dominasi Romawi.
  • Jika kita mengenal sistem kasta di Bali, masyarakat Perancis abad pertengahan mengenal sistem feodal yang menempatkan petani dibawah kendali penguasa dan ksatria.
  • Selain memiliki sosok wanita berpengaruh seperti Marie Antoinette, Perancis juga memiliki pahlawan wanita, yaitu Jeanne d’Arc. Jeanne terjun ke perang antara Inggris dan Perancis karena mendengar suara Tuhan. Dia wafat dengan cap penyihir dan dibakar di Rouen sebelum akhirnya diberi gelar orang suci oleh Paus Benedictus XV pada tahun 1920.    
  • Louis XIV yang dijuluki Raja Matahari atau Maha Raja ternyata memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan. Walaupun menjadi raja ketika berusia 5 tahun, dia harus berkelana ke seluruh negeri karena terjadi pemberontakan dari kaum bangsawan. Kesal, dia mendirikan Château de Versailles yang merupakan lambang dari monarki absolut. Bagaimana Louis XIV tumbang? Penganiayaan oleh orang Protestan dan kehidupan istana yang mewah menimbulkan kesenjangan ekonomi dan Revolusi Perancis.
  • Napoleon Bonaparte meninggalkan beberapa ucapan terkenal. Salah satunya adalah, “Tidak ada yang mustahil dalam kamusku.”  Selain itu, dia tak pernah melewati pintu Arc de Triomphe yang selesai dibangun pada tahun 1836 untuk memperingati kemenangannya.
  • Membayangkan Istana Versailles yang dibangun serba megah dan mewah, lengkap dengan Hall of Mirrors berhiaskan fresco, tahukah Anda, apakah ruangan yang tidak ada di situ? TOILET! Pada masa pemerintahan Louis Phillipe di abad 19, istana ini digunakan sebagai galeri dan dihilangkannyalah ruangan-ruangan kecil seperti toilet.   

"Cukup Tahu Saja" : Sebuah Kepedulian Massal Atas Nama Nasionalisme

Lagi. Bahrain menang melawan Indonesia dalam pertandingan Kualifikasi Pra-Piala Dunia 2014 di tanggal 6 September 2011 dengan skor 2-0. Indonesia kalah 5 gol tanpa perlawanan dalam 2 pertandingan. Kabar buruk bagi pendukung tim nasional, tentu saja. Menurut saya, kekalahan itu lebih disebabkan oleh mental pemain Indonesia yang cenderung menyalahkan dan mencari-cari alasan. Entah perlakuan suporter tuan rumah yang kurang baik saat tandang, postur tubuh yang kalah kekar, kondisi lapangan yang tidak terawat, dan saya masih menunggu alasan untuk kekalahan mereka malam ini. 

Twitter saya selalu berkicau sepanjang pertandingan. Entah itu tweet berisi guyonan, dukungan penuh semangat, maupun lontaran sinis. Saya? Saya hanya me-retweet tweet lucu dan sesekali mengomentari. Apakah saya menonton aksi heroik Tim Garuda? TIDAK. 

Mengapa tidak? Apakah saya tidak mendukung tim nasional Indonesia? Kalo jawaban saya TIDAK, bisa dipastikan orang akan menilai saya TIDAK NASIONALIS.


Kalimat berikut saya kutip dari blog Pandji Pragiwaksono (www.pandji.com) : "Dalam bahasa sederhana, Nasionalisme adalah paham yang percaya bahwa perbedaan dalam sebuah negara harus dipersatukan. Agar negara yang penuh dengan keragaman itu bisa hidup dalam persatuan dan keharmonisan."

Kebangkitan sepakbola Indonesia merupakan salah satu momentum untuk menumbuhkan kembali rasa optimis masyarakat yang terkubur oleh pelaksanaan politik di dalam lembaga olahraga itu sendiri. Carut-marut PSSI, terbentuknya LPI, dilemma kepemimpinan PSSI yang saking leletnya sampai diselenggarakan sidang luar biasa oleh FIFA. Itu lebih dari cukup untuk menghapus nama Indonesia dari persebakbolaan dunia. Untunglah Indonesia masih sempat bermain baik di AFF Suzuki Cup 2010. 

Dalam pengertian saya, dukungan seseorang terhadap tim nasional Indonesia adalah cara paling sederhana yang bisa dilakukan untuk menunjukkan nasionalisme. Ibaratnya, 1 diantara 10.000 atau bahkan lebih cara lain yang masih tersedia di luar sana untuk menunjukkan seberapa nasionaliskah Anda. 

Saya memilih untuk tidak ikut-ikutan mendukung tim nasional Indonesia, bukan berarti saya tidak peduli dan pesimis. Bukan berarti juga saya tidak nasionalis. Kalau saya tidak peduli, mengapa saya meributkan terhentinya pertandingan selama 15 menit karena penonton yang menyalakan petasan? Buat saya, penonton itu masih memiliki cara pandang yang salah mengenai nasionalisme. Mereka tidak memikirkan apa akibat dari perbuatannya terhadap citra Indonesia di mata FIFA. Bagaimana Indonesia bisa terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia jika dinilai tidak mampu menjamin keamanan tim negara lain karena ulah penonton?

Selain urusan nasionalisme sepakbola, Indonesia juga memiliki nasionalisme 'koin'. Dimulai dari gerakan Coin A Chance, berlanjut ke Koin Prita, Koin Cinta Bilqis, #KoinSastra, disusul Gerakan 1000 Rupiah Peduli Shafa dan Azka. 

Untuk hal yang satu ini, saya juga tidak terlalu peduli dengan menyumbangkan sejumlah uang ke rekening yang tersedia. Padahal, gerakan semacam ini membuktikan bahwa masyarakat bisa bersatu untuk memperjuangkan nasib anak manusia lainnya karena perasaan senasib. Sesuai dengan makna nasionalisme.

Mengapa lagi? 

Karena hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi awareness saya. Kepedulian saya yang sebenarnya. Hal yang menurut saya lebih penting. Salah satunya adalah tantangan yang dihadapi dalam menindaklanjuti eksploitasi lingkungan hidup. Saya lebih tertarik untuk berdiskusi mengenai langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global ketimbang masalah penyakit langka.
  
Sebagai seorang mahasiswi, saya merasa wajib untuk mengetahui perkembangan dari apapun yang terjadi di luar ruang gerak saya. Namun, untuk berbuat sesuatu yang nyata, turut serta dalam kerepotan yang terjadi, saya cukup mengatakan, "Cukup tahu saja," sambil tetap melakukan apa yang menjadi passion saya.  

Setiap orang berhak memilih caranya sendiri untuk menjadi nasionalis sejati. Bukan nasionalis metropolis yang bersikap optimis, kemudian pesimis tanpa melakukan apapun, lalu bersikap apatis (lagi). Begitu juga dengan saya. Bagaimana dengan Anda?