Lagi. Bahrain menang melawan Indonesia dalam pertandingan Kualifikasi Pra-Piala Dunia 2014 di tanggal 6 September 2011 dengan skor 2-0. Indonesia kalah 5 gol tanpa perlawanan dalam 2 pertandingan. Kabar buruk bagi pendukung tim nasional, tentu saja. Menurut saya, kekalahan itu lebih disebabkan oleh mental pemain Indonesia yang cenderung menyalahkan dan mencari-cari alasan. Entah perlakuan suporter tuan rumah yang kurang baik saat tandang, postur tubuh yang kalah kekar, kondisi lapangan yang tidak terawat, dan saya masih menunggu alasan untuk kekalahan mereka malam ini.
Twitter saya selalu berkicau sepanjang pertandingan. Entah itu tweet berisi guyonan, dukungan penuh semangat, maupun lontaran sinis. Saya? Saya hanya me-retweet tweet lucu dan sesekali mengomentari. Apakah saya menonton aksi heroik Tim Garuda? TIDAK.
Mengapa tidak? Apakah saya tidak mendukung tim nasional Indonesia? Kalo jawaban saya TIDAK, bisa dipastikan orang akan menilai saya TIDAK NASIONALIS.
Kalimat berikut saya kutip dari blog Pandji Pragiwaksono (www.pandji.com) : "Dalam bahasa sederhana, Nasionalisme adalah paham yang percaya bahwa perbedaan dalam sebuah negara harus dipersatukan. Agar negara yang penuh dengan keragaman itu bisa hidup dalam persatuan dan keharmonisan."
Kebangkitan sepakbola Indonesia merupakan salah satu momentum untuk menumbuhkan kembali rasa optimis masyarakat yang terkubur oleh pelaksanaan politik di dalam lembaga olahraga itu sendiri. Carut-marut PSSI, terbentuknya LPI, dilemma kepemimpinan PSSI yang saking leletnya sampai diselenggarakan sidang luar biasa oleh FIFA. Itu lebih dari cukup untuk menghapus nama Indonesia dari persebakbolaan dunia. Untunglah Indonesia masih sempat bermain baik di AFF Suzuki Cup 2010.
Dalam pengertian saya, dukungan seseorang terhadap tim nasional Indonesia adalah cara paling sederhana yang bisa dilakukan untuk menunjukkan nasionalisme. Ibaratnya, 1 diantara 10.000 atau bahkan lebih cara lain yang masih tersedia di luar sana untuk menunjukkan seberapa nasionaliskah Anda.
Saya memilih untuk tidak ikut-ikutan mendukung tim nasional Indonesia, bukan berarti saya tidak peduli dan pesimis. Bukan berarti juga saya tidak nasionalis. Kalau saya tidak peduli, mengapa saya meributkan terhentinya pertandingan selama 15 menit karena penonton yang menyalakan petasan? Buat saya, penonton itu masih memiliki cara pandang yang salah mengenai nasionalisme. Mereka tidak memikirkan apa akibat dari perbuatannya terhadap citra Indonesia di mata FIFA. Bagaimana Indonesia bisa terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia jika dinilai tidak mampu menjamin keamanan tim negara lain karena ulah penonton?
Selain urusan nasionalisme sepakbola, Indonesia juga memiliki nasionalisme 'koin'. Dimulai dari gerakan Coin A Chance, berlanjut ke Koin Prita, Koin Cinta Bilqis, #KoinSastra, disusul Gerakan 1000 Rupiah Peduli Shafa dan Azka.
Untuk hal yang satu ini, saya juga tidak terlalu peduli dengan menyumbangkan sejumlah uang ke rekening yang tersedia. Padahal, gerakan semacam ini membuktikan bahwa masyarakat bisa bersatu untuk memperjuangkan nasib anak manusia lainnya karena perasaan senasib. Sesuai dengan makna nasionalisme.
Mengapa lagi?
Karena hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang menjadi awareness saya. Kepedulian saya yang sebenarnya. Hal yang menurut saya lebih penting. Salah satunya adalah tantangan yang dihadapi dalam menindaklanjuti eksploitasi lingkungan hidup. Saya lebih tertarik untuk berdiskusi mengenai langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global ketimbang masalah penyakit langka.
Sebagai seorang mahasiswi, saya merasa wajib untuk mengetahui perkembangan dari apapun yang terjadi di luar ruang gerak saya. Namun, untuk berbuat sesuatu yang nyata, turut serta dalam kerepotan yang terjadi, saya cukup mengatakan, "Cukup tahu saja," sambil tetap melakukan apa yang menjadi passion saya.
Setiap orang berhak memilih caranya sendiri untuk menjadi nasionalis sejati. Bukan nasionalis metropolis yang bersikap optimis, kemudian pesimis tanpa melakukan apapun, lalu bersikap apatis (lagi). Begitu juga dengan saya. Bagaimana dengan Anda?
No comments:
Post a Comment