Kita semua mengetahui kelebihan Facebook sebagai situs social media yang interaktif, virtual, bisa menyampaikan informasi dengan cepat, dengan biaya yang murah. Namun, dibalik fungsinya sebagai media pertemanan, ternyata Facebook bisa dirancang untuk menggerakan suatu bangsa untuk menjadi lebih kritis terhadap sistem pemerintahan mereka yang dianggap merugikan rakyat dan melakukan suatu revolusi melawan Husni Mubarak.
Salah satu dosen pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, yakni Ibu Riris Loisa, tertarik untuk melakukan riset terkait dengan revolusi Mesir yang terjadi pada awal tahun 2011 lalu. Riset ini dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan dasar-dasar semiotika dan analisis wacana.
Jika membaca majalah pada akhir tahun, pasti suka menemukan segmen khusus yang membahas peristiwa penting di tahun itu. Nah! Revolusi Mesir, yang akrab disebut dengan 'Revolusi Facebook' pasti termasuk didalamnya.
Kejadian ini bermula saat seorang aktivis Facebook berusia 29 tahun bernama Khaled Said ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Kemungkinan besar dia ditangkap oleh aparat dan disiksa sebelum dibunuh.
Seorang Marketing Manager Google asal Mesir bernama Wheil Ghonim yang tinggal di Uni Emirates Arab, membuat suatu gerakan di Facebook yang didukung oleh rakyat Mesir bernama 'We Are All Khaled Said'. Khaled Said didaulat sebagai icon perubahan.
Penunjukan icon dan pemanfaatan momentum dimaksudkan untuk membentuk kesadaran kritis mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan. Terbentuklah sebuah identitas yang powerful setelah mereka menetapkan Husni Mubarak sebagai common enemy karena pemerintahannya yang diktator.
Hal ini sekaligus membuktikan teori Manuelle Castell yang mengatakan bahwa 'Orang dengan kepentingan yang sama akan berkumpul di media sosial, menyadari identitas mereka yang powerless, kemudian mengubahnya menjadi powerful.
Diperlihatkannya foto kondisi penindasan dengan gambaran yang diinginkan dalam Facebook merupakan projected identity. Before and after yang mempersatukan keinginan untuk merdeka dari tekanan pemerintahan.
Relevankah teori ini dipakai dalam konteks lainnya? Tentu saja relevan, apalagi jika menyangkut kepentingan krusial orang banyak. Diperlukan seorang icon atau sebuah momentum untuk menyentil masyarakat, "Hei. Kita perlu berubah, dan menjadi bagian dari perubahan ini."




