Saturday, December 10, 2011

Revolusi (oleh) Facebook

Kita semua mengetahui kelebihan Facebook sebagai situs social media yang interaktif, virtual, bisa menyampaikan informasi dengan cepat, dengan biaya yang murah. Namun, dibalik fungsinya sebagai media pertemanan, ternyata Facebook bisa dirancang untuk menggerakan suatu bangsa untuk menjadi lebih kritis terhadap sistem pemerintahan mereka yang dianggap merugikan rakyat  dan melakukan suatu revolusi melawan Husni Mubarak. 

Salah satu dosen pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, yakni Ibu Riris Loisa, tertarik untuk melakukan riset terkait dengan revolusi Mesir yang terjadi pada awal tahun 2011 lalu. Riset ini dilakukan dengan metode kualitatif menggunakan dasar-dasar semiotika dan analisis wacana.

Jika membaca majalah pada akhir tahun, pasti suka menemukan segmen khusus yang membahas peristiwa penting di tahun itu. Nah! Revolusi Mesir, yang akrab disebut dengan 'Revolusi Facebook' pasti termasuk didalamnya. 




Kejadian ini bermula saat seorang aktivis Facebook berusia 29 tahun bernama Khaled Said ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Kemungkinan besar dia ditangkap oleh aparat dan disiksa sebelum dibunuh. 

Seorang Marketing Manager Google asal Mesir bernama Wheil Ghonim yang tinggal di Uni Emirates Arab, membuat suatu gerakan di Facebook yang didukung oleh rakyat Mesir bernama 'We Are All Khaled Said'. Khaled Said didaulat sebagai icon perubahan. 




Penunjukan icon dan pemanfaatan momentum dimaksudkan untuk membentuk kesadaran kritis  mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang bisa dilakukan untuk mengubah keadaan. Terbentuklah sebuah identitas yang powerful setelah mereka menetapkan Husni Mubarak sebagai common enemy karena pemerintahannya yang diktator. 

Hal ini sekaligus membuktikan teori Manuelle Castell yang mengatakan bahwa 'Orang dengan kepentingan yang sama akan berkumpul di media sosial, menyadari identitas mereka yang powerless, kemudian mengubahnya menjadi powerful. 

Diperlihatkannya foto kondisi penindasan dengan gambaran yang diinginkan dalam Facebook merupakan projected identity. Before and after yang mempersatukan keinginan untuk merdeka dari tekanan pemerintahan. 

Relevankah teori ini dipakai dalam konteks lainnya? Tentu saja relevan, apalagi jika menyangkut kepentingan krusial orang banyak. Diperlukan seorang icon atau sebuah momentum untuk menyentil masyarakat, "Hei. Kita perlu berubah, dan menjadi bagian dari perubahan ini."

Antara Public Relations, Jurnalistik, dan Periklanan

Sebenarnya, ada begitu banyak yang bisa dipelajari dari ilmu komunikasi. Marketing Communications, Public Speaking, Mass Communications, dan lain-lain. Namun, hanya ada 3 jurusan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara. Public Relations, Jurnalistik, dan Advertising

Menurut salah satu majalah wanita yang pernah saya baca, ketiga profesi ini merupakan salah satu dari profesi paling rentan stress. Waduh! Eh, nanti dulu. Mari kita bahas satu per satu, berdasarkan sisi akademis dan profesinya. Yuk!





PUBLIC RELATIONS
  • Profesi ini sering diidentikkan dengan wanita cantik, seksi, berpakaian serba mini, dunia entertainment, networking event, dan lain-lain. Benarkah? Seorang PR memang diwajibkan untuk berpenampilan menarik, namun tak harus glamour koq. Seperti kata pepatah lama nan manjur, kesan pertama itu segalanya. 
  • PR is about managing issues. Saat perusahaan didera isu tidak menyenangkan tentang kegagalan produk dan pelayanan jasa yang kurang sesuai, korupsi, konflik dengan masyarakat sekitar, dan lain-lain, PR seolah menjadi bumper bagi perusahaan. 




JURNALISTIK 
  • Idealnya, profesi ini akan bekerja di media. Ya media cetak, elektronik, dan internet. Bagi orang yang mobile, ini mengasyikan. Bagaimana tidak? Bertemu dengan banyak public figure, jadi orang pertama yang mengetahui update terbaru dari sebuah berita. 
  • Tapiiiiiii, siap-siap berurusan dengan deadline jika tidak pintar mengatur waktu. 
  • Profesi ini seringkali dianggap musuh PR. PR bertugas sebagai 'pelindung' image perusahaan, sementara reporter harus mencari berita untuk dimuat di media massa. 




ADVERTISING
  • Profesi ini dinilai paling banyak menghasilkan uang. Secara iklan itu ada dimana-mana, seiring dengan bertumbuhnya media. 
  • Kreativitas itu wajib bagi orang di bidang ini. Selalu dituntut untuk menghasilkan iklan kreatif yang diharapkan dapat mendongkrak penjualan produk secara langsung. 

Nah. Sekian dari saya. Jika ingin tahu lebih mendetail, silakan googling sendiri atau baca buku, karena buku adalah jendela dunia. Terima kasih.  

Iklan di Era New Media

Era new media ditandai oleh konvergensi media. Informasi dapat diakses dari 3 layar : TV, laptop atau tablet sebagai penunjang kerja, dan handheld macam Blackberry dan HP Android. Perubahan ini tentu saja berdampak pada pola perilaku. Masyarakat lebih menikmati menonton TV ketimbang membaca koran. Kini di Indonesia, ada 11 stasiun TV nasional. 

Selain itu, Indonesia memiliki 34 juta pengguna internet. Tercatat sebagai ke-5 terbesar di Asia. Mengapa demikian?
  • Tarif semakin murah. Banyak provider internet berlomba menawarkan tarif termurah, tergantung pada fitur dan bandwidth yang dibutuhkan.  
  • Jaringan mengglobal. Perusahaan memiliki media internal berupa newsletter, website, dan menggunakan Google dalam proses recruitment karyawannya.
  • Tak terbatasnya informasi yang tersedia
  • Bisa digunakan sebagai bisnis media online. Membeli sesuatu bisa dilakukan hanya dengan mengakses internet.

Untuk bisa memanfaatkan penggunaan teknologi internet dengan maksimal, kita harus mengetahui teknisnya media online, antara lain :
  • Content / platform is the king.
  • User behavior, online maupun offline.
  • Statistic, seperti tingkat traffic dan iklan.
  • Marketing.
  • Technology.
  • Make money. Industri kreatif membutuhkan internet sebagai media pemasarannya.
  • Culture. Menyesuaikan diri dengan perubahan. 

Bangsa yang maju ditentukan oleh seberapa sanggup mereka menguasai teknologi internet. Apakah Indonesia bisa?

Monday, December 5, 2011

Tantangan dan Perubahan dalam Media Komunikasi

Perubahan dalam setiap era kehidupan terjadi karena berkembangnya teknologi yang semakin memudahkan manusia untuk mengerjakan segala sesuatunya, termasuk di dalamnya memperoleh, membuat, dan menyebarkan informasi.

Kondisi seperti ini amatlah menarik jika ditilik dari sisi 'sebelum dan sesudah':
Sebelumnya, pesan dibuat oleh dan untuk audiens yang 'seragam'. Kini, audiens yang mulai bisa memilih pesannya disajikan sebuah pesan yang dipahami oleh segala kalangan.
Dulu, pesan terbagi untuk publik internal dan eksternal. Sekarang, semua pesan tersaji untuk setiap orang.
Masih ingatkah Anda, betapa sederhananya penerima pesan sebelum era New Age? Pesan hanya ditujukan untuk pelanggan, karyawan, pemegang saham, dan publik general. Sekarang, publik terbagi menjadi anak muda, karyawan kelas menengah, senior executives, dan lain-lain.

Lalu, apakah konten informasinya juga berubah sesuai selera masyarakat? Survei Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) membuktikan bahwa berita kriminal, olahraga, dan bencana masih tetap menjual; sementara berita mengenai kesehatan, gaya hidup, dan pendidikan mulai menjadi favorit; serta berita bisnis dan politik yang memiliki sedikit peminat. Selain itu, media sudah mulai mendengarkan saran dari audiensnya. 

Tak hanya perubahan dari segi audiens dan konten, media pun sekarang berganyung kepada social media yang bersifat personalized account. Namun, peran media massa tetap diperlukan sebagai pengklarifikasi dari informasi yang diragukan kebenarannya jika disampaikan melalui twitter (misalnya).