Sunday, October 9, 2011

Anatomi Media Penyiaran

Sebuah lembaga yang baik memerlukan struktur yang jelas agar dapat memberikan hasil yang maksimal. Entah itu lembaga non profit, terlebih perusahaan penyiaran. Maksimal dalam artian bisa menjadi penyalur informasi bagi masyarakat dan memberikan laba .

Biar bagaimanapun juga, sebuah media membutuhkan modal untuk dapat menjalankan aktivitasnya. Mayoritas modal akan didapat dari iklan dan pemegang saham. Hal tersebut menjadi sebuah polemik tersendiri. Akankah media masih dapat memberitakan informasi secara berimbang tanpa kepentingan sang pemilik? Mungkinkah orang-orang yang berada di media tersebut masih dapat bersikap idealis?

Sebagai mahasiswa komunikasi yang diwajibkan untuk melek informasi, kita tentu sudah mengetahui perihal perang media yang terjadi antara Metro TV dan TV One. Kedua stasiun televisi yang dimiliki oleh politikus dan pengusaha ternama di Indonesia, memiliki kepentingan politik. Dan itulah yang akhirnya membuat berita yang disampaikan condong ke pihak tertentu. 

Memojokkan dengan menonjolkan pemberitaan lawan, mendukung dengan membanggakan prestasi diri.

Mengapa bisa terjadi hal demikian ?

Puncak dari sebuah anatomi media penyiaran adalah lembaga, disusul oleh badan usaha, dan kepemilikan.Tak heran apabila siapa yang memiliki akan berpengaruh terhadap isi berita. Modal yang disokong oleh ketiga komponen diatas akan menentukan kecanggihan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan gambar dan suara yang jernih.

Bukankah kita kerap menentukan apa yang akan kita nikmati berdasarkan konten?

Konten akan membuat pengiklan memilih untuk memasang iklan di acara televisi dan jam tertentu. Acara dan iklan yang akan disiarkan harus jelas dulu target market dan penontonnya agar lebih terarah.

Seperti internet memiliki firewall, begitulah fungsi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka berfungsi sebagai regulator dengan membuat regulasi untuk siaran media.

Seperti kata Wimar Witoelar dalam bukunya "Still More About Nothing", gigi tidak usah dicabut karena saling menopang satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan anatomi media penyiaran. Semuanya harus bekerjasama untuk menghasilkan acara yang fun namun tetap edukatif.

Sunday, October 2, 2011

Pop Culture? Blame It On The Media!

http://tv.mtvema.com/ - Vote - Best Pop - Justin Bieber. 

Setelahnya, saya berpindah ke kategori lain. Best Male. Eh, ada Justin Bieber lagi. Tapi, saya memilih David Guetta.

Kategori 'Biggest Fans' pun juga sama. Ada Justin Bieber dengan Beliebers yang jealous ketika idolanya ini berpacaran dengan Selena Gomez.

Kehebohan seorang Justin Bieber juga pernah melanda Indonesia saat konsernya yang banyak mengundang penipuan tiket dan segerombolan ABG yang bela-belain nunggu bocah pirang ini bandara Soekarno-Hatta. Lucunya, kamera infotainment sempat merekam gambar ABG mewek sambil bilang, "Justin jahat. Aku dicuekkin." Ya kali deh. Labil. 

Tak semua orang menyukai sosok Justin Bieber. Jumlah haters dan loversnya mungkin berbanding sama. Buktinya, mayoritas sahabat saya menunjukkan ekspresi tidak suka saat saya memuji betapa talented brother Justin. Hal serupa juga terjadi pada SM*SH. Disukai sekaligus dibenci disaat yang bersamaan.

Masifnya pengaruh sosok idola terhadap kehidupan masyarakat Indonesia bukan barang baru, dan hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan. Mereka menjadi opinion leader juga, secara tidak langsung. Apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berpacaran, secara otomatis menjadi pengetahuan umum. Terlepas dari penting apa tidaknya, publik juga merasa berhak menyampaikan komentar mereka apapun itu. Hal yang bisa dilakukan sang idola hanyalah pasrah. 

'Seseorang' tidak akan menjadi 'seorang' tanpa media. Ya. Media yang pasti kita jumpai setiap hari dalam berbagai bentuk. Entah itu account social media, TV, radio, majalah, koran, dan internet. Band bernuansa Melayu yang membuat telinga saya berdenging, terkenal karena diliput oleh media. 

Disini, fungsi media akan membentuk suatu budaya yang dikenal dengan budaya massa atau POP CULTURE. Budaya yang dianggap umum dan menentukan selera pasar secara keseluruhan. Hasilnya ya  komersialisasi karya seni. Sebuah karya akan dianggap menjual jika mengikuti selera pasar. Contohnya boleh dilihat pada nama-nama yang saya sebutkan diatas. 


Bagaimana nasib seniman yang memilih untuk mengikuti idealisme mereka? Sudah kenalan belum sama budaya INDIE? Indie yang merupakan akronim dari 'independence' mengalami perkembangan yang cukup pesat dan mendapatkan review yang cukup baik dari para kritikus. Mengapa? Karena karya yang mereka hasilkan memiliki personal touch dan berkualitas. White Shoes and The Couples Company, Mocca, Maliq n D'Essentials, Agrikulture, Seringai adalah sekian banyak dari musisi Indonesia yang sukses menampilkan musik yang berbeda dan dapat diterima oleh masyarakat. 


Lalu, kemanakah seharusnya media berpihak? Lebih baik mana, musisi dari label major atau indie? Semuanya itu hanya bisa dijawab oleh si penikmat musik itu sendiri. Namanya juga selera. Siapa yang berhak memaksakan? Kalau tidak suka, kan bisa memilih untuk belajar menyukai atau matikan saja suaranya. 

Saturday, October 1, 2011

Apakah Pancasila (Masih) Sakti?

30 September 1965. Menjelang subuh 1 Oktober 1965, enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah menumpas oknum-oknum yang diduga terlibat aktivitas Partai Komunis Indonesia tanpa jalur pengadilan. Peristiwa tahun 1965 ini sukses menjadi common sorrow bagi anggota keluarga mereka yang belum tentu bersalah secara hukum. Mereka seolah telah di-blacklist sehingga kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Setelah peristiwa yang dikenal dengan nama Gestapu tersebut, dibangunlah Monumen Pancasila Sakti atas gagasan Almarhum Presiden Soeharto di wilayah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Sebuah monumen yang didirikan sebagai bentuk penghargaan dan pengingat.

Penghargaan kepada Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia dari ancaman komunis. Pengingat bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan Pancasila bersama-sama, walaupun mengorbankan nyawa yang tidak sedikit.

Mungkin peristiwa yang baru kita peringati minggu ini hanyalah konspirasi tingkat tinggi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa sejarah bangsa ini telah dimanipulasi untuk kepentingan beberapa pihak. Mungkin peristiwa yang terjadi sebenarnya tidak akan pernah terungkap. Namun, ada baiknya kita melihat pembelajaran yang bisa kita peroleh dari setiap peristiwa yang tertoreh dalam sejarah agar tidak terulang lagi.

Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa 30 September 1965 adalah konspirasi, kita disadarkan bahwa pengamalan Pancasila sebagai ideologi harus menjadi jiwa setiap warga negara Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang disusun oleh Muhammad Yamin dan Soekarno bukan sebagai pelengkap Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.


Ideologi memang tidak setinggi agama. Agama yang dianut memberikan sejumlah peraturan bagi umatnya. Bagaimana mereka menjalankannya, itu menjadi urusan pribadi setiap individu dengan Sang Pencipta. Lalu, apakah hal yang sama juga terjadi dengan ideologi? Kepada siapakah seseorang mempertanggungjawabkan pelanggarannya terhadap Pancasila?

Jawabannya kembali lagi kepada kalimat sederhana, “Manusia adalah makhluk sosial.” Apapun yang dilakukan setiap orang berdampak kepada lingkungan sekitarnya. Keadaan ini diperjelas oleh media yang menjadi santapan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Hal paling jelas terlihat saat pengeboman gereja di Solo tanggal 25 September 2011 lalu. Kota Solo yang dikenal karena ketenangannya langsung geger akibat ulah oknum yang merelakan dirinya menjadi korban pertama dari peristiwa tersebut. Beberapa pihak mulai menuding, sementara yang lainnya bersikap defensif. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah menyelidiki kejadian ini berdasarkan asas kemanusiaan, bukan keagamaan.

Jika dalam kasus Gerakan 30 September 1965, bangsa Indonesia bersama pemerintah bisa mengambil tindakan tegas dalam pelanggaran ideologi yang belum terbukti kurang baik jika dilaksanakan. Bagaimana halnya dengan pelanggaran hak asasi manusia yang menjadi pembicaraan hangat di kalangan intelektualis humanis Indonesia?

Hak asasi manusia seperti hidup dalam damai tanpa peperangan antar etnis yang kerap diprovokasi oleh pihak anonim, beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing di tempat yang layak tanpa interupsi, sampai mengungkapkan opini di media publik. Sudahkah pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia berjalan sebagaimana semestinya? Bukankah hak asasi manusia merupakan bagian dari pengamalan Pancasila itu sendiri?

Sejatinya, Pancasila Sakti tidak akan pernah berakhir. Ia mungkin dianggap selesai saat Partai Komunis Indonesia ditumpas habis, tapi alangkah luar biasanya saat Pancasila yang mengandung unsur kemanusiaan dan keadilan berhasil dilaksanakan secara berdampingan oleh setiap warga negara demi negara Indonesia yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Hari ini adalah sebuah peringatan. Peringatan Pancasila Sakti. Marilah kita teruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi Pancasila dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cobalah untuk menghargai perbedaan. Sebuah sikap sederhana yang membawa dampak besar bagi bangsa yang terkenal keramahannya di mata dunia ini.