Sunday, October 2, 2011

Pop Culture? Blame It On The Media!

http://tv.mtvema.com/ - Vote - Best Pop - Justin Bieber. 

Setelahnya, saya berpindah ke kategori lain. Best Male. Eh, ada Justin Bieber lagi. Tapi, saya memilih David Guetta.

Kategori 'Biggest Fans' pun juga sama. Ada Justin Bieber dengan Beliebers yang jealous ketika idolanya ini berpacaran dengan Selena Gomez.

Kehebohan seorang Justin Bieber juga pernah melanda Indonesia saat konsernya yang banyak mengundang penipuan tiket dan segerombolan ABG yang bela-belain nunggu bocah pirang ini bandara Soekarno-Hatta. Lucunya, kamera infotainment sempat merekam gambar ABG mewek sambil bilang, "Justin jahat. Aku dicuekkin." Ya kali deh. Labil. 

Tak semua orang menyukai sosok Justin Bieber. Jumlah haters dan loversnya mungkin berbanding sama. Buktinya, mayoritas sahabat saya menunjukkan ekspresi tidak suka saat saya memuji betapa talented brother Justin. Hal serupa juga terjadi pada SM*SH. Disukai sekaligus dibenci disaat yang bersamaan.

Masifnya pengaruh sosok idola terhadap kehidupan masyarakat Indonesia bukan barang baru, dan hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan. Mereka menjadi opinion leader juga, secara tidak langsung. Apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berpacaran, secara otomatis menjadi pengetahuan umum. Terlepas dari penting apa tidaknya, publik juga merasa berhak menyampaikan komentar mereka apapun itu. Hal yang bisa dilakukan sang idola hanyalah pasrah. 

'Seseorang' tidak akan menjadi 'seorang' tanpa media. Ya. Media yang pasti kita jumpai setiap hari dalam berbagai bentuk. Entah itu account social media, TV, radio, majalah, koran, dan internet. Band bernuansa Melayu yang membuat telinga saya berdenging, terkenal karena diliput oleh media. 

Disini, fungsi media akan membentuk suatu budaya yang dikenal dengan budaya massa atau POP CULTURE. Budaya yang dianggap umum dan menentukan selera pasar secara keseluruhan. Hasilnya ya  komersialisasi karya seni. Sebuah karya akan dianggap menjual jika mengikuti selera pasar. Contohnya boleh dilihat pada nama-nama yang saya sebutkan diatas. 


Bagaimana nasib seniman yang memilih untuk mengikuti idealisme mereka? Sudah kenalan belum sama budaya INDIE? Indie yang merupakan akronim dari 'independence' mengalami perkembangan yang cukup pesat dan mendapatkan review yang cukup baik dari para kritikus. Mengapa? Karena karya yang mereka hasilkan memiliki personal touch dan berkualitas. White Shoes and The Couples Company, Mocca, Maliq n D'Essentials, Agrikulture, Seringai adalah sekian banyak dari musisi Indonesia yang sukses menampilkan musik yang berbeda dan dapat diterima oleh masyarakat. 


Lalu, kemanakah seharusnya media berpihak? Lebih baik mana, musisi dari label major atau indie? Semuanya itu hanya bisa dijawab oleh si penikmat musik itu sendiri. Namanya juga selera. Siapa yang berhak memaksakan? Kalau tidak suka, kan bisa memilih untuk belajar menyukai atau matikan saja suaranya. 

No comments:

Post a Comment