Tuesday, September 20, 2011

'Kelebihan' Sarjana

Hampir semua surat kabar nasional selalu menyajikan halaman khusus untuk berbagai lowongan kerja dari beragam perusahaan untuk pekerjaan apapun. Layaknya sebuah kamus yang berisi ribuan kata yang mungkin dicari oleh orang yang membutuhkan. Siapapun yang telah menginjak usia produktif pasti mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya selama sekolah. Pemilik usia produktif tentu saja jumlahnya mayoritas di Indonesia. Ironisnya, mengapa kurangnya lapangan pekerjaan masih menjadi masalah utama? Mungkinkah hal itu disebabkan oleh persyaratan lowongan kerja yang mewajibkan calon karyawannya menamatkan pendidikan Strata Satu?

Universitas adalah institusi pendidikan tertinggi di Indonesia, dimana masyarakat yang bergabung kedalamnya disebut ‘Mahasiswa’. Maha digunakan untuk menunjukkan sangat dan besar, sesuatu yang bersifat grand.

Biaya pendidikan yang mahal, terutama di tingkat universitas, menjadikan kehidupan kampus menjadi barang eksklusif yang belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Bagi orang-orang yang ingin belajar namun tidak memiliki biaya sedemikian besar, mereka akan mencari cara lain untuk meningkatkan skill agar bisa bersaing di dunia kerja.

Dilihat dari segi penguasaan kemampuan, jelas dimenangkan oleh siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan calon mahasiswa yang akhirnya mengikuti kursus dengan biaya yang lebih terjangkau dan waktu yang relatif lebih singkat, serta pembelajaran materi yang praktis.

Namun, mengapa perusahaan lebih memilih untuk mempekerjakan sarjana ketimbang orang yang telah memiliki pengalaman kerja? Apa lebihnya gelar dibanding keahlian yang sudah teruji?

Disini saya melihat sebuah ekspektasi perusahaan terhadap lulusan dari universitas. Ekspektasi seperti apa yang diharapkan sementara universitas dinilai hanya menekankan pembelajaran pada teori?

Mahasiswa tidak hanya menyandang gelar Sarjana dengan segudang pemahaman teori, tapi juga bagaimana bersikap layaknya seorang akademisi intelektual. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan inisiatif dari mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Mahasiswa akan belajar bagaimana berlaku asertif dalam mengungkapkan pendapat, berbicara di depan publik, beradaptasi dengan berbagai karakter, berpikir kritis, kepemimpinan, dan bekerja sama dalam tim. Soft skill seperti inilah yang dibutuhkan dalam dunia kerja, hanya bisa dipelajari selama masa perkuliahan, namun belum tentu bisa didapat di tempat kursus atau SMK.  

Lalu, bagaimanakah mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja setamat dari universitas? Disinilah peran universitas untuk memfasilitasi mahasiswanya dengan pembentukan karakter dan pengalaman kerja melalui magang.

Dengan peran aktif dari pihak universitas dan mahasiswa, diharapkan mampu menghasilkan lulusan berkualitas yang siap berkontribusi dalam dunia kerja sesuai minat dan bakat masing-masing melalui perusahaan yang mempercayakan sebuah pekerjaan pada mereka. 

§ Tulisan ini meraih Juara 1 dalam Kompetisi Penulisan Artikel dengan tema "Fly to Your Dream Job with Microsoft Technology" yang diumumkan pada tanggal 19 September 2011

No comments:

Post a Comment