Kurang lebih 2 minggu yang lalu, twitterland dihebohkan oleh terungkapnya identitas asli dari @Poconggg yang ternyata bernama asli Arief Muhammad, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti!! Heboh-heboh ternyata tetanggaan toh?
Dimulai dari tweet konyol, seikat @Poconggg bisa memiliki 888.159 followers! Kegilaan ini berlanjut saat si @Poconggg fenomenal ini merilis buku 'Poconggg Juga Pocong' yang langsung sold out di toko buku seluruh Indonesia. Bukunya tipis, isinya pun dibilang lucu banget juga tidak, biasa saja. Harganya cuma dibanderol 36 ribu Rupiah saja. Sangat murah untuk sebuah buku bacaan iseng-iseng.
Selain @Poconggg, pengguna twitter Indonesia pasti familiar atau follow account twitter @sherinamunaf dan @radityadika. Mereka mungkin dikenal sebagai artis atau penulis di dunia nyata, namun account twitter mereka menunjukkan sisi lain dari kepribadian mereka. Sherina yang kritis dan peduli terhadap isu global, terutama anak muda. Raditya Dika yang saya curigai memiliki kelebihan hormon 'ucul' (bahasa slang untuk 'lucu').
Kepemilikan account social media merupakan salah satu contoh sederhana dan menghibur dari citizen journalism, bahasa kerennya jurnalisme warga. Contoh 'serius'? @hansdavidian, @rahung, @fadjroel, dan @IndraJPiliang mungkin. Mereka adalah orang-orang berkompeten dalam arus pertukaran informasi dan sering update tweet mengenai apa yang mereka rasakan atau pikirkan mengenai suatu peristiwa.
Sebagai salah seorang pengguna twitter yang aktif 'berkicau', tanpa saya sadari, disinilah beberapa teori-teori komunikasi itu terbukti.
- 'Uses and Gratifications' membuat saya memilih untuk memantau timeline mereka ketimbang timeline @kompasdotcom dkk, karena kontennya lebih jujur dan terbuka. Mereka bisa menyajikan fakta yang tidak (atau belum?) tersentuh oleh media.
- 'The Expectacy Value Theory' : Kepuasan yang kita cari dari media ditentukan oleh sikan kita terhadap media, atau kepercayaan kita tentang apa yang diberikan dan bagaimana kita mengevaluasi materi tersebut. Beberapa sahabat saya percaya bahwa berbagi kegalauan dengan update status Facebook atau tweeting itu efektif untuk mengurangi tingkat depresi lho!
Jika semua yang kita lakukan di dunia maya hanya untuk senang-senang tanpa tujuan serius, mungkin polemik berikut tidak akan terlalu bikin pusing. Apakah jurnalisme warga telah dilakukan berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik jurnalistik? Manakah yang lebih penting, kecepatan atau kelengkapan; partisipatori atau kualitas jurnalistik; dan ruang privat atau ruang publik?
Mungkin tidak semua orang memahami kode etik jurnalistik. Tidak semua orang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya terkait apa yang dipajangnya di account social media. Namun, akan lebih baik jika setiap orang berpikir lebih matang sebelum bertindak, apalagi di dunia maya. Tidak mau kan, kehilangan kesempatan akibat online fight atau curhat ngomel?
No comments:
Post a Comment