Geez. 12 September 2011. Leila Lopes dari Angola terpilih sebagai Miss Universe 2011. Mengalahkan Miss China, Miss Philippines, Miss Brazil, dan Miss Ukraine, serta 83 Miss dari negara lainnya.
Apa yang membuat mata saya tak berhenti menatap layar televisi saat event ini ditayangkan adalah ya, sosok Leila Lopes itu sendiri. Baru kali ini saya melihat seorang wanita pemenang beauty pageant tingkat internasional 'berbeda'.
Leila Lopes adalah cerminan wanita Afrika asli. Kulit berwarna gelap eksotis (asli, bukan hasil tanning) diimbangi perawatan yang tepat dan memiliki bibir tebal, seperti Tyra Banks atau Chanel Iman. Bandingkan dengan pemenang beauty pageant lainnya yang berkulit putih, bermata bulat kecokelatan, berambut coklat panjang.
Ketika para wanita dan pria disuruh memilih, manakah tipe wanita ideal menurut mereka, saya yakin kita sudah tahu jawabannya. Semua serentak menunjuk Ximena Navarette, Stefania Fernandez, atau minimal Dayana Mendoza.
Mengapa bisa begitu?
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan pengaruh iklan yang merongrong di semua media?
Bisa jadi!
Kini fungsi iklan bukan hanya memberikan informasi mengenai produk yang ditawarkan (informasional), tapi juga mengubah sistem sosial dan perilaku konsumen (transformasional).
Orang tidak lagi membeli produk berdasarkan kegunaan, tapi juga melihat nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya. Prestise, misalnya. Fungsi barang-barang fashion itu sebenarnya sama saja. Untuk menunjang penampilan. Lalu, mengapa ada orang yang tergila-gila dengan branded items dengan harga yang jauh lebih mahal, coba?
Bagaimana iklan bisa mengubah sistem sosial?
Ingatkah kita dengan sosok chef idabul (idaman bule), Farah Quinn? Lalu, chef Marinka yang menjadi juri dalam tayangan Masterchef Indonesia? Jika pria mengabaikan wanita seperti saya yang hanya bisa memasak pasta instan, kita tahu siapa oknum yang harus disalahkan *smirk*
Contoh lainnya adalah iklan produk perawatan wajah dan kulit yang (katanya) bisa 'memutihkan' kulit, padahal hanya membuat kulit 'tampak lebih cerah'. Iklan seperti itu yang terus-menerus ditayangkan setiap commercial break, perlahan tapi pasti, membuat wanita menganggap bahwa cantik itu ya harus berkulit putih. Bagi wanita yang dari sananya sudah berkulit putih, akan merasa bahwa dia kurang langsing karena iklan slimming tea dan broadcast message CMP. Benar-benar lingkaran setan bagi wanita yang lebih mementingkan penampilan fisik ketimbang isi otak.
Itulah tantangan sekaligus pemasukan terbesar bagi dunia periklanan Indonesia, terlebih bagi insan kreatif. Iklan kreatif seperti XL versi 'Kawin Sama Kambing' sempat menuai protes karena dianggap tidak mendidik bagi anak-anak. Iklan saja dituntut untuk mendidik. Namun, iklan kreatif XL yang dianggap 'kebohongan' itulah yang menyelamatkan XL dari kebangkrutan dan menjadikannya provider terfavorit di Indonesia.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya, memilih acara televisi yang mendidik akan secara tidak langsung menentukan iklan yang ditayangkan. Iklan produk massal berkualitas menengah akan lebih banyak diputar saat primetime sinetron. Lihat saja kalau tidak percaya.
Solusi lainnya adalah mengganti channel ke MTV Asia atau [V] Channel. Daripada melihat iklan, lebih baik kita mendengarkan lagu terbaru dari penyanyi favorit kita. Ya nggak?
This comment has been removed by the author.
ReplyDelete