- Angelina Jolie di Afghanistan dalam misi UNHCR, 2011-
Salah satu alasan mengapa saya mengagumi sosok beberapa selebriti adalah keterlibatan mereka dalam aksi sosial. Mereka menggunakan popularitas, waktu, dan sebagian dari penghasilan mereka untuk berbagi kepada sesamanya. Beberapa mendirikan organisasi sendiri, beberapa memilih untuk menyumbangkan uang mereka untuk dikelola oleh organisasi yang dianggap memiliki kredibilitas, sementara ada pula yang menyempatkan dirinya untuk terjun langsung ke lapangan. Contohnya adalah Angelina Jolie yang terpilih menjadi UNHCR Goodwill Ambassador.
Sebagai seorang ambassador, Angelina Jolie berkesempatan untuk mengunjungi daerah konflik dan berbagi semangat dengan pengungsi yang menjadi awareness dari UNHCR.
UNCHR merupakan singkatan dari United Nations High Commissioner for Refugees, didirikan pada tanggal 14 Desember 1950 untuk menggantikan IRO sebagai lembaga pendamping pengungsi di negara ketiga yang terlibat perang.
Bekerja di organisasi kemanusiaan skala internasional sangatlah menantang, apalagi di UNCHR yang 'dekat' dengan pemberitaan di media massa mengenai perang di negara lain. Terkadang kenyataan di lapangan bisa berbeda atau sama dengan apa yang diberitakan.
Jikalau fungsi seorang ambassador dalam endorsement produk adalah membuat citra positif sekaligus menjadi bintang iklan, serta menyebarkan kampanye (seperti 'It's In Me' dari Aqua), maka fungsi ambassador dalam organisasi skala nasional - internasional adalah mengkomunikasikan visi, misi, dan tujuan melalui kegiatan real kepada publik, sehingga publik mengetahui eksistensi mereka dan diharapkan dapat mengubah perilaku ke arah yang lebih positif.
Menggunakan selebriti sebagai endorser atau ambassador masih menjadi salah satu cara efektif untuk memperkenalkan suatu nilai yang dianut kepada masyarakat. Keberadaan artis sekaliber Angelina Jolie membuka mata kita terhadap permasalahan pengungsi yang kerap terabaikan akibat konflik di negara mereka. Indonesia sendiri memiliki pengungsi yang terlantar akibat penanganan bencana alam yang terlambat. Bagaimana Indonesia bisa mengadaptasi gaya komunikasi organisasi tersebut agar penyelesaian masalah pengungsi bisa berjalan dengan lebih efektif? Tentunya bukan dengan membuat album keempat, bukan? :P

No comments:
Post a Comment