Sunday, October 9, 2011

Anatomi Media Penyiaran

Sebuah lembaga yang baik memerlukan struktur yang jelas agar dapat memberikan hasil yang maksimal. Entah itu lembaga non profit, terlebih perusahaan penyiaran. Maksimal dalam artian bisa menjadi penyalur informasi bagi masyarakat dan memberikan laba .

Biar bagaimanapun juga, sebuah media membutuhkan modal untuk dapat menjalankan aktivitasnya. Mayoritas modal akan didapat dari iklan dan pemegang saham. Hal tersebut menjadi sebuah polemik tersendiri. Akankah media masih dapat memberitakan informasi secara berimbang tanpa kepentingan sang pemilik? Mungkinkah orang-orang yang berada di media tersebut masih dapat bersikap idealis?

Sebagai mahasiswa komunikasi yang diwajibkan untuk melek informasi, kita tentu sudah mengetahui perihal perang media yang terjadi antara Metro TV dan TV One. Kedua stasiun televisi yang dimiliki oleh politikus dan pengusaha ternama di Indonesia, memiliki kepentingan politik. Dan itulah yang akhirnya membuat berita yang disampaikan condong ke pihak tertentu. 

Memojokkan dengan menonjolkan pemberitaan lawan, mendukung dengan membanggakan prestasi diri.

Mengapa bisa terjadi hal demikian ?

Puncak dari sebuah anatomi media penyiaran adalah lembaga, disusul oleh badan usaha, dan kepemilikan.Tak heran apabila siapa yang memiliki akan berpengaruh terhadap isi berita. Modal yang disokong oleh ketiga komponen diatas akan menentukan kecanggihan teknologi yang digunakan untuk menghasilkan gambar dan suara yang jernih.

Bukankah kita kerap menentukan apa yang akan kita nikmati berdasarkan konten?

Konten akan membuat pengiklan memilih untuk memasang iklan di acara televisi dan jam tertentu. Acara dan iklan yang akan disiarkan harus jelas dulu target market dan penontonnya agar lebih terarah.

Seperti internet memiliki firewall, begitulah fungsi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Mereka berfungsi sebagai regulator dengan membuat regulasi untuk siaran media.

Seperti kata Wimar Witoelar dalam bukunya "Still More About Nothing", gigi tidak usah dicabut karena saling menopang satu dengan yang lainnya. Begitu pula dengan anatomi media penyiaran. Semuanya harus bekerjasama untuk menghasilkan acara yang fun namun tetap edukatif.

Sunday, October 2, 2011

Pop Culture? Blame It On The Media!

http://tv.mtvema.com/ - Vote - Best Pop - Justin Bieber. 

Setelahnya, saya berpindah ke kategori lain. Best Male. Eh, ada Justin Bieber lagi. Tapi, saya memilih David Guetta.

Kategori 'Biggest Fans' pun juga sama. Ada Justin Bieber dengan Beliebers yang jealous ketika idolanya ini berpacaran dengan Selena Gomez.

Kehebohan seorang Justin Bieber juga pernah melanda Indonesia saat konsernya yang banyak mengundang penipuan tiket dan segerombolan ABG yang bela-belain nunggu bocah pirang ini bandara Soekarno-Hatta. Lucunya, kamera infotainment sempat merekam gambar ABG mewek sambil bilang, "Justin jahat. Aku dicuekkin." Ya kali deh. Labil. 

Tak semua orang menyukai sosok Justin Bieber. Jumlah haters dan loversnya mungkin berbanding sama. Buktinya, mayoritas sahabat saya menunjukkan ekspresi tidak suka saat saya memuji betapa talented brother Justin. Hal serupa juga terjadi pada SM*SH. Disukai sekaligus dibenci disaat yang bersamaan.

Masifnya pengaruh sosok idola terhadap kehidupan masyarakat Indonesia bukan barang baru, dan hampir terjadi di seluruh aspek kehidupan. Mereka menjadi opinion leader juga, secara tidak langsung. Apa yang mereka lakukan, dengan siapa mereka berpacaran, secara otomatis menjadi pengetahuan umum. Terlepas dari penting apa tidaknya, publik juga merasa berhak menyampaikan komentar mereka apapun itu. Hal yang bisa dilakukan sang idola hanyalah pasrah. 

'Seseorang' tidak akan menjadi 'seorang' tanpa media. Ya. Media yang pasti kita jumpai setiap hari dalam berbagai bentuk. Entah itu account social media, TV, radio, majalah, koran, dan internet. Band bernuansa Melayu yang membuat telinga saya berdenging, terkenal karena diliput oleh media. 

Disini, fungsi media akan membentuk suatu budaya yang dikenal dengan budaya massa atau POP CULTURE. Budaya yang dianggap umum dan menentukan selera pasar secara keseluruhan. Hasilnya ya  komersialisasi karya seni. Sebuah karya akan dianggap menjual jika mengikuti selera pasar. Contohnya boleh dilihat pada nama-nama yang saya sebutkan diatas. 


Bagaimana nasib seniman yang memilih untuk mengikuti idealisme mereka? Sudah kenalan belum sama budaya INDIE? Indie yang merupakan akronim dari 'independence' mengalami perkembangan yang cukup pesat dan mendapatkan review yang cukup baik dari para kritikus. Mengapa? Karena karya yang mereka hasilkan memiliki personal touch dan berkualitas. White Shoes and The Couples Company, Mocca, Maliq n D'Essentials, Agrikulture, Seringai adalah sekian banyak dari musisi Indonesia yang sukses menampilkan musik yang berbeda dan dapat diterima oleh masyarakat. 


Lalu, kemanakah seharusnya media berpihak? Lebih baik mana, musisi dari label major atau indie? Semuanya itu hanya bisa dijawab oleh si penikmat musik itu sendiri. Namanya juga selera. Siapa yang berhak memaksakan? Kalau tidak suka, kan bisa memilih untuk belajar menyukai atau matikan saja suaranya. 

Saturday, October 1, 2011

Apakah Pancasila (Masih) Sakti?

30 September 1965. Menjelang subuh 1 Oktober 1965, enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah menumpas oknum-oknum yang diduga terlibat aktivitas Partai Komunis Indonesia tanpa jalur pengadilan. Peristiwa tahun 1965 ini sukses menjadi common sorrow bagi anggota keluarga mereka yang belum tentu bersalah secara hukum. Mereka seolah telah di-blacklist sehingga kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Setelah peristiwa yang dikenal dengan nama Gestapu tersebut, dibangunlah Monumen Pancasila Sakti atas gagasan Almarhum Presiden Soeharto di wilayah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Sebuah monumen yang didirikan sebagai bentuk penghargaan dan pengingat.

Penghargaan kepada Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia dari ancaman komunis. Pengingat bahwa Indonesia telah berhasil mempertahankan Pancasila bersama-sama, walaupun mengorbankan nyawa yang tidak sedikit.

Mungkin peristiwa yang baru kita peringati minggu ini hanyalah konspirasi tingkat tinggi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa sejarah bangsa ini telah dimanipulasi untuk kepentingan beberapa pihak. Mungkin peristiwa yang terjadi sebenarnya tidak akan pernah terungkap. Namun, ada baiknya kita melihat pembelajaran yang bisa kita peroleh dari setiap peristiwa yang tertoreh dalam sejarah agar tidak terulang lagi.

Terlepas dari benar atau tidaknya peristiwa 30 September 1965 adalah konspirasi, kita disadarkan bahwa pengamalan Pancasila sebagai ideologi harus menjadi jiwa setiap warga negara Indonesia. Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang disusun oleh Muhammad Yamin dan Soekarno bukan sebagai pelengkap Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.


Ideologi memang tidak setinggi agama. Agama yang dianut memberikan sejumlah peraturan bagi umatnya. Bagaimana mereka menjalankannya, itu menjadi urusan pribadi setiap individu dengan Sang Pencipta. Lalu, apakah hal yang sama juga terjadi dengan ideologi? Kepada siapakah seseorang mempertanggungjawabkan pelanggarannya terhadap Pancasila?

Jawabannya kembali lagi kepada kalimat sederhana, “Manusia adalah makhluk sosial.” Apapun yang dilakukan setiap orang berdampak kepada lingkungan sekitarnya. Keadaan ini diperjelas oleh media yang menjadi santapan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Hal paling jelas terlihat saat pengeboman gereja di Solo tanggal 25 September 2011 lalu. Kota Solo yang dikenal karena ketenangannya langsung geger akibat ulah oknum yang merelakan dirinya menjadi korban pertama dari peristiwa tersebut. Beberapa pihak mulai menuding, sementara yang lainnya bersikap defensif. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah menyelidiki kejadian ini berdasarkan asas kemanusiaan, bukan keagamaan.

Jika dalam kasus Gerakan 30 September 1965, bangsa Indonesia bersama pemerintah bisa mengambil tindakan tegas dalam pelanggaran ideologi yang belum terbukti kurang baik jika dilaksanakan. Bagaimana halnya dengan pelanggaran hak asasi manusia yang menjadi pembicaraan hangat di kalangan intelektualis humanis Indonesia?

Hak asasi manusia seperti hidup dalam damai tanpa peperangan antar etnis yang kerap diprovokasi oleh pihak anonim, beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing di tempat yang layak tanpa interupsi, sampai mengungkapkan opini di media publik. Sudahkah pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia berjalan sebagaimana semestinya? Bukankah hak asasi manusia merupakan bagian dari pengamalan Pancasila itu sendiri?

Sejatinya, Pancasila Sakti tidak akan pernah berakhir. Ia mungkin dianggap selesai saat Partai Komunis Indonesia ditumpas habis, tapi alangkah luar biasanya saat Pancasila yang mengandung unsur kemanusiaan dan keadilan berhasil dilaksanakan secara berdampingan oleh setiap warga negara demi negara Indonesia yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Hari ini adalah sebuah peringatan. Peringatan Pancasila Sakti. Marilah kita teruskan perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi Pancasila dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Cobalah untuk menghargai perbedaan. Sebuah sikap sederhana yang membawa dampak besar bagi bangsa yang terkenal keramahannya di mata dunia ini.  

Friday, September 23, 2011

Leila Lopes, Realita Cantik, dan Iklan

Geez. 12 September 2011. Leila Lopes dari Angola terpilih sebagai Miss Universe 2011. Mengalahkan Miss China, Miss Philippines,  Miss Brazil, dan Miss Ukraine, serta 83 Miss dari negara lainnya. 

Apa yang membuat mata saya tak berhenti menatap layar televisi saat event ini ditayangkan adalah ya, sosok Leila Lopes itu sendiri. Baru kali ini saya melihat seorang wanita pemenang beauty pageant tingkat internasional 'berbeda'.

Leila Lopes adalah cerminan wanita Afrika asli. Kulit berwarna gelap eksotis (asli, bukan hasil tanning) diimbangi perawatan yang tepat dan memiliki bibir tebal, seperti Tyra Banks atau Chanel Iman. Bandingkan dengan pemenang beauty pageant lainnya yang berkulit putih, bermata bulat kecokelatan, berambut coklat panjang. 

Ketika para wanita dan pria disuruh memilih, manakah tipe wanita ideal menurut mereka, saya yakin kita sudah tahu jawabannya. Semua serentak menunjuk Ximena Navarette, Stefania Fernandez, atau minimal Dayana Mendoza. 

Mengapa bisa begitu? 

Mungkinkah ini ada hubungannya dengan pengaruh iklan yang merongrong di semua media?

Bisa jadi! 

Kini fungsi iklan bukan hanya memberikan informasi mengenai produk yang ditawarkan (informasional), tapi juga mengubah sistem sosial dan perilaku konsumen (transformasional).
Orang tidak lagi membeli produk berdasarkan kegunaan, tapi juga melihat nilai-nilai lain yang terkandung di dalamnya. Prestise, misalnya. Fungsi barang-barang fashion itu sebenarnya sama saja. Untuk menunjang penampilan. Lalu, mengapa ada orang yang tergila-gila dengan branded items dengan harga yang jauh lebih mahal, coba? 

Bagaimana iklan bisa mengubah sistem sosial? 

Ingatkah kita dengan sosok chef idabul (idaman bule), Farah Quinn? Lalu, chef Marinka yang menjadi juri dalam tayangan Masterchef Indonesia? Jika pria mengabaikan wanita seperti saya yang hanya bisa memasak pasta instan, kita tahu siapa oknum yang harus disalahkan *smirk*

Contoh lainnya adalah iklan produk perawatan wajah dan kulit yang (katanya) bisa 'memutihkan' kulit, padahal hanya membuat kulit 'tampak lebih cerah'. Iklan seperti itu yang terus-menerus ditayangkan setiap commercial break, perlahan tapi pasti, membuat wanita menganggap bahwa cantik itu ya harus berkulit putih. Bagi wanita yang dari sananya sudah berkulit putih, akan merasa bahwa dia kurang langsing karena iklan slimming tea dan broadcast message CMP. Benar-benar lingkaran setan bagi wanita yang lebih mementingkan penampilan fisik ketimbang isi otak. 

Itulah tantangan sekaligus pemasukan terbesar bagi dunia periklanan Indonesia, terlebih bagi insan kreatif. Iklan kreatif seperti XL versi 'Kawin Sama Kambing' sempat menuai protes karena dianggap tidak mendidik bagi anak-anak. Iklan saja dituntut untuk mendidik. Namun, iklan kreatif XL yang dianggap 'kebohongan' itulah yang menyelamatkan XL dari kebangkrutan dan menjadikannya provider terfavorit di Indonesia. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan? 

Menurut saya, memilih acara televisi yang mendidik akan secara tidak langsung menentukan iklan yang ditayangkan. Iklan produk massal berkualitas menengah akan lebih banyak diputar saat primetime sinetron. Lihat saja kalau tidak percaya. 

Solusi lainnya adalah mengganti channel ke MTV Asia atau [V] Channel. Daripada melihat iklan, lebih baik kita mendengarkan lagu terbaru dari penyanyi favorit kita. Ya nggak?

Tuesday, September 20, 2011

Lebih Dari Sekedar Promosi

Menteri Budaya dan Pariwisata Indonesia, Jero Wacik telah mencanangkan kampanye Visit Indonesia sejak tahun 2008 yang berlanjut sampai dengan tahun 2011. Hasilnya? Tingkat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia tahun 2010 mencapai 7 juta orang. Dengan demikian, tercapailah target Kementerian Budaya dan Pariwisata. Dari kunjungan wisata mancanegara tersebut, devisa yang dihasilkan sebesar  lebih US$ 7 miliar atau Rp 63 triliun. 

Tidak hanya menambah devisa, sektor pariwisata juga bisa menambah lapangan pekerjaan bagi warga di sekitar objek wisata tersebut. Hal ini dapat dilihat dari bertebarannya pedagang makanan, souvenir, sampai baju yang berada di wilayah Gunung Tangkuban Perahu, Bandung.

Indonesia memiliki beragam objek wisata yang belum tentu bisa ditawarkan oleh negara lain, seperti wisata kuliner dengan makanan khas setiap daerah, kesenian (termasuk didalamnya upacara adat yang jarang diekspos oleh media), objek wisata alam, dan bangunan hasil karya manusia yang memiliki nilai historis.

Betapa kayanya Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura. Indonesia telah memiliki berbagai objek wisata yang hanya perlu penanganan khusus untuk membuatnya lebih menarik tanpa perlu membangun berbagai objek wisata buatan. Lalu, mengapa orang Indonesia masih memilih untuk berlibur ke Singapura? Apakah karena Singapura lebih terjaga kebersihan dan keamanannya? Jika iya, apakah 2 faktor tersebut tidak bisa dimiliki Indonesia? Apakah kebersihan dan keamanan itu sepenuhnya dilimpahkan kepada pemerintah? Tidak, bukan? Jelas, bahwa perkembangan sektor pariwisata bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga setiap elemen masyarakat.

Masyarakat Indonesia hendaknya memiliki kesadaran akan potensi pariwisata Indonesia. Adapun cara menumbuhkan ‘rasa’ tersebut adalah dengan memilih untuk berlibur dalam negeri. Jika bosan berkunjung ke factory outlet di Bandung, cobalah berpaling ke Kampung Batik Laweyan dan Kauman di Solo yang dikenal dengan batik rumahannya.

Sebagai turis domestik, kita akan mengetahui strength, weakness, opportunity, dan threat daerah wisata yang telah kita kunjungi. Ketika kita menemukan candi yang minim perawatan, otomatis kita akan berupaya untuk menjaga candi tersebut dengan tidak menginjak bagian candi yang sudah rapuh. Maksimalkan strength dengan pelestarian yang maksimal untuk meminimalisir weakness, manfaatkan opportunity untuk menangkal threat.  

Pemerintah memang telah membentuk Badan Promosi Pariwisata Indonesia dengan alokasi dana sebesar Rp 289 miliar untuk promosi. Promosi memang diperlukan untuk menarik lebih banyak wisatawan, namun ada baiknya kita terlebih dahulu membuat atmosfer yang nyaman agar promosi yang telah dilakukan tidak meninggalkan kesan menipu saat wisatawan menemui kenyataan yang berbeda di lapangan.

Indonesia telah memiliki 1 poin plus karena keramahan orang-orangnya, mari kita perlengkap poin Indonesia di kancah internasional dengan melestarikan apa yang telah menjadi milik kita dalam bentuk objek wisata!

§  Tulisan ini pernah dimuat di Harian Seputar Indonesia Sabtu, tanggal 22 Januari 2011

'Kelebihan' Sarjana

Hampir semua surat kabar nasional selalu menyajikan halaman khusus untuk berbagai lowongan kerja dari beragam perusahaan untuk pekerjaan apapun. Layaknya sebuah kamus yang berisi ribuan kata yang mungkin dicari oleh orang yang membutuhkan. Siapapun yang telah menginjak usia produktif pasti mencari lapangan pekerjaan yang sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya selama sekolah. Pemilik usia produktif tentu saja jumlahnya mayoritas di Indonesia. Ironisnya, mengapa kurangnya lapangan pekerjaan masih menjadi masalah utama? Mungkinkah hal itu disebabkan oleh persyaratan lowongan kerja yang mewajibkan calon karyawannya menamatkan pendidikan Strata Satu?

Universitas adalah institusi pendidikan tertinggi di Indonesia, dimana masyarakat yang bergabung kedalamnya disebut ‘Mahasiswa’. Maha digunakan untuk menunjukkan sangat dan besar, sesuatu yang bersifat grand.

Biaya pendidikan yang mahal, terutama di tingkat universitas, menjadikan kehidupan kampus menjadi barang eksklusif yang belum tentu bisa dinikmati oleh semua orang. Bagi orang-orang yang ingin belajar namun tidak memiliki biaya sedemikian besar, mereka akan mencari cara lain untuk meningkatkan skill agar bisa bersaing di dunia kerja.

Dilihat dari segi penguasaan kemampuan, jelas dimenangkan oleh siswa-siswi Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan calon mahasiswa yang akhirnya mengikuti kursus dengan biaya yang lebih terjangkau dan waktu yang relatif lebih singkat, serta pembelajaran materi yang praktis.

Namun, mengapa perusahaan lebih memilih untuk mempekerjakan sarjana ketimbang orang yang telah memiliki pengalaman kerja? Apa lebihnya gelar dibanding keahlian yang sudah teruji?

Disini saya melihat sebuah ekspektasi perusahaan terhadap lulusan dari universitas. Ekspektasi seperti apa yang diharapkan sementara universitas dinilai hanya menekankan pembelajaran pada teori?

Mahasiswa tidak hanya menyandang gelar Sarjana dengan segudang pemahaman teori, tapi juga bagaimana bersikap layaknya seorang akademisi intelektual. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan inisiatif dari mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan organisasi. Mahasiswa akan belajar bagaimana berlaku asertif dalam mengungkapkan pendapat, berbicara di depan publik, beradaptasi dengan berbagai karakter, berpikir kritis, kepemimpinan, dan bekerja sama dalam tim. Soft skill seperti inilah yang dibutuhkan dalam dunia kerja, hanya bisa dipelajari selama masa perkuliahan, namun belum tentu bisa didapat di tempat kursus atau SMK.  

Lalu, bagaimanakah mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di dunia kerja setamat dari universitas? Disinilah peran universitas untuk memfasilitasi mahasiswanya dengan pembentukan karakter dan pengalaman kerja melalui magang.

Dengan peran aktif dari pihak universitas dan mahasiswa, diharapkan mampu menghasilkan lulusan berkualitas yang siap berkontribusi dalam dunia kerja sesuai minat dan bakat masing-masing melalui perusahaan yang mempercayakan sebuah pekerjaan pada mereka. 

§ Tulisan ini meraih Juara 1 dalam Kompetisi Penulisan Artikel dengan tema "Fly to Your Dream Job with Microsoft Technology" yang diumumkan pada tanggal 19 September 2011

Jurnalisme Oleh Kita, Sadarkah Kita?

Kurang lebih 2 minggu yang lalu, twitterland dihebohkan oleh terungkapnya identitas asli dari @Poconggg yang ternyata bernama asli Arief Muhammad, seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti!! Heboh-heboh ternyata tetanggaan toh? 

Dimulai dari tweet konyol, seikat @Poconggg bisa memiliki 888.159 followers! Kegilaan ini berlanjut saat si @Poconggg fenomenal ini merilis buku 'Poconggg Juga Pocong' yang langsung sold out di toko buku seluruh Indonesia. Bukunya tipis, isinya pun dibilang lucu banget juga tidak, biasa saja. Harganya cuma dibanderol 36 ribu Rupiah saja. Sangat murah untuk sebuah buku bacaan iseng-iseng. 

Selain @Poconggg, pengguna twitter Indonesia pasti familiar atau follow account twitter @sherinamunaf dan @radityadika. Mereka mungkin dikenal sebagai artis atau penulis di dunia nyata, namun account twitter mereka menunjukkan sisi lain dari kepribadian mereka. Sherina yang kritis dan peduli terhadap isu global, terutama anak muda. Raditya Dika yang saya curigai memiliki kelebihan hormon 'ucul' (bahasa slang untuk 'lucu'). 

Kepemilikan account social media merupakan salah satu contoh sederhana dan menghibur dari citizen journalism, bahasa kerennya jurnalisme warga. Contoh 'serius'? @hansdavidian, @rahung, @fadjroel,  dan @IndraJPiliang mungkin. Mereka adalah orang-orang berkompeten dalam arus pertukaran informasi dan sering update tweet mengenai apa yang mereka rasakan atau pikirkan mengenai suatu peristiwa. 

Sebagai salah seorang pengguna twitter yang aktif 'berkicau', tanpa saya sadari, disinilah beberapa teori-teori komunikasi itu terbukti. 
  • 'Uses and Gratifications' membuat saya memilih untuk memantau timeline mereka ketimbang timeline @kompasdotcom dkk, karena kontennya lebih jujur dan terbuka. Mereka bisa menyajikan fakta yang tidak (atau belum?) tersentuh oleh media.
  • 'The Expectacy Value Theory' : Kepuasan yang kita cari dari media ditentukan oleh sikan kita terhadap media, atau kepercayaan kita tentang apa yang diberikan dan bagaimana kita mengevaluasi materi tersebut. Beberapa sahabat saya percaya bahwa berbagi kegalauan dengan update status Facebook atau tweeting itu efektif untuk mengurangi tingkat depresi lho!
Jika semua yang kita lakukan di dunia maya hanya untuk senang-senang tanpa tujuan serius, mungkin polemik berikut tidak akan terlalu bikin pusing. Apakah jurnalisme warga telah dilakukan berdasarkan nilai-nilai berita dan kode etik jurnalistik? Manakah yang lebih penting, kecepatan atau kelengkapan; partisipatori atau kualitas jurnalistik; dan ruang privat atau ruang publik?

Mungkin tidak semua orang memahami kode etik jurnalistik. Tidak semua orang peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya terkait apa yang dipajangnya di account social media. Namun, akan lebih baik jika setiap orang berpikir lebih matang sebelum bertindak, apalagi di dunia maya. Tidak mau kan, kehilangan kesempatan akibat online fight atau curhat ngomel?